RADAR BOGOR - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menghadiri acara Pasamoan Agung atau High Level Meeting (HLM) Tim Pengendali Inflasi Daerah dan Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TPID - TP2DD) tahun 2025.
Dalam sambutannya di acara yang digelar di Karawang tersebut, Dedi Mulyadi menyebut dirinya orang tradisional.
"Tidak ngerti digitalisasi, tidak ngerti inflasi, tidak ngerti apapun," ungkapnya.
Gubernur Jawa Barat mengatakan, berangkat dari kerangka berpikir yang sangat tradisi.
"Saya tradisi ekonominya, ilmu ekonomi saya enggak ngerti Pak," tuturnya kepada peserta undangan yang hadir.
Tetapi, Dedi Mulyadi menyampaikan, paham bahwa Jawa Barat memiliki dua hamparan karakter manusia.
"Yang pertama adalah hamparan pedesaan, yang kedua adalah hamparan perkotaan," ujarnya
Pedesaan itu, Gubernur Jawa Barat menuturkan, harus menjadi pusat produksi.
"Maka orang Sunda itu prinsip ekonominya sederhana Saetik mahi loba nyesa," pungkasnya.
Dedi Mulyadi menjelaskan, makna prinsip ekonomi Saetik Mahi Loba Nyesa.
"Apapun yang ada dalam potensi diri kita itu adalah kekuatan kita dan itu sebuah nilai," bebernya.
Jika ada yang lebih banyak, Dedi Mulyadi menegaskan, maka harus menjadi investasi.
"Manajemen ekonomi saya itu belajar dari manajemen ekonomi ibu saya," sebutnya.
Gubernur Jawa Barat menceritakan, ayahnya seorang kepala prajurit palang tiga memiliki modal hidup.
"Bapak saya cuman prajurit kepala palang tiga, punya seperempat hektar sawah, punya seperempat hektar kebun, punya satu kolam. Itulah modal kami hidup," tandas Dedi Mulyadi.
Editor : Siti Dewi Yanti