Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Ternyata Ini yang Dipelajari Anak-anak Barak Militer, Ahli Grafologi Ungkap Bukan Cuma PBB, Gusti Aju: Negara Itu Rumahnya, Bangsa Itu Keluarganya

Eli Kustiyawati • Jumat, 13 Juni 2025 | 12:47 WIB
Ahli grafologi Gusti Aju ungkap jadwal anak-anak di barak militer program dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi
Ahli grafologi Gusti Aju ungkap jadwal anak-anak di barak militer program dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi

RADAR BOGOR - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, membuat kebijakan baru yang kontroversial dan menuai banyak kritik, yaitu pendidikan karakter di barak militer atau yang disebut Dodik Bela Negara.

Kebijakan ini menjadi sorotan berbagai kalangan. Dalam kanal YouTube Helmy Yahya Bicara, salah satu ibu asuh sekaligus ahli grafologi di Dodik Bela Negara, Gusti Aju Dewi, menjelaskan hal-hal yang dilakukan anak-anak yang mengikuti program ini.

Pada gelombang pertama, terdapat 273 anak yang mengikuti pendidikan karakter yang digagas oleh Dedi Mulyadi.

Mereka yang masuk dalam program pendidikan karakter bela negara tetap belajar seperti biasa, bukan semata-mata melakukan latihan baris-berbaris.

Anak-anak tersebut memiliki jadwal yang teratur dan diberi arahan tentang kegiatan yang harus dilakukan.

“Yang dilakukan di situ ada ibadah, ada motivasi. Tidak seperti yang diasumsikan banyak orang,” kata Gusti Aju, ahli grafologi.

Gusti Aju pun memaparkan bahwa kegiatan anak-anak di barak militer tidak hanya berisi pelatihan seperti PBB saja. Mereka juga belajar sebagaimana sekolah pada umumnya.

“Jadi, hari pertama itu ada keberangkatan, perjalanan, administrasi, registrasi, kemudian pembagian perlengkapan, medical check-up, pangkas rambut, pembagian barang, apel, dan ibadah.”

Ia melanjutkan, “Ada senam, makan, apel lagi, bimbingan dan pengasuhan. Ada istirahat pagi, istirahat siang, isoma. Salatnya lima waktu, Pak. Setiap dua jam ada waktu istirahat, Pak. Kemudian ada bimbingan pengasuhan, lalu baris-berbaris.”

Gusti Aju juga menegaskan bahwa agenda baris-berbaris merupakan kegiatan minor, bukan kegiatan utama, sebelum dilanjutkan ke materi formal.

Setelah materi formal, anak-anak mengikuti sesi psikologi. Mereka juga diberi pemahaman tentang kerukunan antarumat beragama, pengenalan Undang-Undang Dasar 1945, serta materi mengenai NKRI.

Sebagai ahli grafologi, Gusti Aju mengaku pernah memberikan materi tentang perbedaan antara bangsa dan negara.

Ia menyampaikan pemahaman tersebut melalui analogi yang mudah dipahami, yaitu negara sebagai rumah dan bangsa sebagai penghuninya.

Menariknya, menurut Gusti Aju, penyampaian materi tersebut membuat beberapa anak berkaca-kaca.

“Saya tersadar, saya menggunakan istilah rumah dan keluarga. Supaya lebih mudah dipahami, saya sederhanakan: negara itu rumahnya, bangsa itu keluarganya yang menghuni rumah tersebut. Dari situ muncul trigger-nya—rumah dan keluarga. Padahal konteks saya adalah: sesama bangsa kita harus bersatu,” pungkasnya.***

Editor : Eli Kustiyawati
#dedi mulyadi #barak militer #Dodik Bela Negara #grafologi #gubernur jawa barat #pendidikan karakter