RADAR BOGOR - Lagu Surga di Tanah Papua diciptakan oleh Dedi Mulyadi jauh sebelum dirinya menjabat sebagai gubernur Jawa Barat. Lagu tersebut belakangan populer setelah diposting ulang di media sosial sang gubernur. Berikut cerita di balik lahirnya lagu Surga di Tanah Papua ciptaan Dedi Mulyadi.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi belum lama ini menggunggah lagu Surga di Tanah Papua di Instagramnya @dedimulyadi71. Dalam keterangannya Dedi menuliskan keterangan, "Video kesan saya soal Papua saya tuangkan dalam lagu Surga di Tanah Papua."
Lagu itu dinyanyikan oleh grup musik Emka 9 yang dibentuk Dedi Mulyadi sejak lama. Ketika itu lagu tersebut dinyanyikan oleh sang vokalis sebelumnya bernama Echa dan kini digantikan oleh Kanaya Wulan atau Kanaya Whu.
Dilantunkan dengan merdu oleh sang vokalis lagu Surga di Tanah Papua sukses mencuri perhatian.
Melansir YouTube Kang Dedi Mulyadi channel lagu tersebut diunggah sekitar 5 tahun lalu dalam video berjudul "Surga di Tanah Papua Emka 9 Karya Kang Dedi Mulyadi".
Di video itu Dedi Mulyadi pun menceritakan awal mula menciptakan lagu Surga di Tanah Papua.
"Saya pernah berkunjung ke Papua, bermalam menyusuri perbukitan bertemu dengan tokoh adat dan saya waktu itu bangun pagi menulis lagu berjudul Surga di Tanah Papua," ujar Dedi Mulyadi.
Kepala daerah berusia 54 tahun itu mengungkapkan kekagumannya terhadap tanah Papua yang menurutnya indah. Suasana di pulau paling timur Indonesia itu membuat Dedi Mulyadi terinspirasi untuk menciptakan lagu.
"Lagu itu adalah inspirasi saya karena saking mencintai Tanah Papua yang indah dan subur dan Pak Wali Kota Jaya Pura mungkin hari ini sudah selesai masa jabatannya pernah memberi hadiah kepada grup musik Emka 9," jelas Dedi ketika itu.
Sang wali kota pada masa itu itu menurut Dedi memberikan hadiah berupa uang kepada grup musik Emka 9 yang dijadikan sebagai bentuk penghargaan dan rasa hormat terhadap lagu Surga di Tanah Papua.
"Lagu ini adalah lagu kecintaan bagi masyarakat Papua, mudah-mudahan kita semua senantiasa bersaudara menjaga negara kesatuan Republik Indonesia," ucap Dedi Mulyadi.
Editor : Eka Rahmawati