RADAR BOGOR - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi bertemu dengan anak perempuan asal Kuningan bernama Purwanti, yang kesulitan membayar sekolah.
Diketahui, Purwanti tinggal bersama nenek dan adiknya, serta mengaku suka membantu pekerjaan rumah. Namun, ada satu bagian rumah yang berantakan dan berdebu.
"Kamu bisa enggak pulang setelah ini rapihin dapur? tanya Dedi Mulyadi.
"Bisa," jawab Purwanti.
Gubernur Jawa Barat menekankan rumah harus rapi dan tidak boleh berantakan.
"Bisa enggak? tangannya kukunya panjang-panjang," sebutnya saat melihat jari jemari Purwanti.
"Belum digunting," ujar Purwanti.
"Coba lihat (melihat tangan Purwanti), kalau ini enggak pernah kerja," tutur Dedi Mulyadi.
"Kerja Bapak, nyuci," imbuh Purwanti.
"Kalau nyuci pakai kukunya panjang nanti patah," lanjut Gubernur Jawa Barat.
"Patah ini," ungkap Purwanti.
Dedi Mulyadi kembali melihat tangan Purwanti dan menegaskan siswi SMP tersebut jarang bekerja membantu pekerjaan rumah.
"Ini tangan enggak kerja ini. Anaknya lagi pertumbuhan lagi ada centil-centilnya remaja. Coba lihat, aku tuh hafal tangan orang kerja sama enggak kerja," pungkasnya.
Kepada ajudannya, Gubernur Jawa Barat mengatakan, Purwanti jarang bekerja dan suka main telepon genggam.
"Ngaku aja, sering main HP," katanya.
"Iya sih. Sering," terang Purwanti.
"Bisa enggak? enggak usah main HP?" tanya Dedi Mulyadi.
"InsyaAllah bisa," tutur Purwanti.
Gubernur Jawa Barat menginginkan jawaban yang tegas.
"Aku nanya kamu bisa enggak berhenti main hape?" tanyanya.
"Bisa," jawab Purwanti.
"Kamu bisa enggak? Tanganmu tidak sehalus itu? Saya ini ngerti. Kamu lagi senang bersolek ya? Anak remaja Ni Hyang juga begitu sama. Dandan," jelas Dedi Mulyadi.
"Enggak punya skincare," ungkap Purwanti.
Bukan soal skincare, Gubernur Jawa Barat menjabarkan, tidak masalah dengan hal tersebut.
"Cuman kan kita harus fighter, bukan nyari orang manja. Nih boleh ngomong nih saya. Tanganmu terlalu halus untuk seorang pekerja keras yang tinggal di desa.
"Ngerti kan bahasa saya? Artinya apa? Artinya di tengah keprihatinan yang dialami, itu harus dibangun etos kerja yang tinggi," bebernya.
Editor : Siti Dewi Yanti