RADAR BOGOR – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, tidak ingin provinsi yang dipimpinnya masih dipenuhi anak-anak putus sekolah atau bermasalah, sehingga pendidikannya menjadi berantakan.
Seperti yang terjadi baru-baru ini, Dedi Mulyadi mengundang seorang anak berusia belasan tahun asal Bekasi ke kediamannya. Anak tersebut diketahui sudah putus sekolah sejak kelas 3 SD.
Usut punya usut, anak itu disuruh ibunya mencari uang sendiri sepulang sekolah dengan menjadi tukang parkir. Hingga akhirnya, ia berhenti menempuh pendidikan dasar.
Anak tersebut kini tinggal bersama engkongnya yang sehari-hari bekerja sebagai pencari rongsok. Kedua orang tuanya sudah bercerai dan hidup terpisah.
“Kemarin ketemu ya, namanya siapa?” tanya Dedi seperti dilansir dari YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel pada 17 Juni 2025.
“Agus Muhammad Lutfi,” ungkap si anak.
“Siapa nama engkongnya?” tanya Dedi.
“Engkong Kecil,” jawab bapak tua yang menemani Agus.
Dedi kemudian bertanya lebih lanjut mengenai alasan Agus tidak menamatkan pendidikan SD.
“Kenapa sampai tidak sekolah?” ucap Dedi.
“Dia tadinya tinggal sama bapaknya, lalu diambil sama ibunya. Bapaknya pindah kontrakan, jadi sekolahnya telat, cuma sampai kelas 3. Terus, kelas 3 dia sudah disuruh cari uang sama ibunya,” ungkap Engkong Kecil.
Dedi pun penasaran bagaimana anak kelas 3 SD bisa mencari uang. Agus pun mengungkapkan aktivitas hariannya yang seharusnya tidak dilakukan oleh anak seusianya.
“Ini, apa namanya, habis pulang sekolah markirin,” ungkap Agus dengan suara pelan.
Dedi lalu menjelaskan bahwa anak-anak yang dipaksa mencari uang sejak kecil akan cenderung enggan sekolah karena sudah mengenal uang.
“Ini kebiasaan anak kota-kota. Akhirnya senang uang, tahu uang. Artinya kan, disuruh cari uang, tahu uang, akhirnya nggak mau sekolah,” ujar Dedi.
Engkong Kecil pun menjelaskan bahwa jika Agus tidak mau mencari uang, ia akan dimarahi oleh ibunya.
“Bukan nggak mau sekolah, kalau dia nggak mau cari duit, sama ibunya dimarahi,” kata Engkong.
Agus pun membenarkan perkataan engkongnya soal keseharian setelah pulang sekolah.
“Habis pulang sekolah markirin. Masuk jam 12 siang, nanti baliknya markirin. Diongkosin paling nggak, kadang-kadang goceng,” ujar Agus.
Dedi lalu bertanya usia dan kemampuan baca tulis Agus yang ternyata masih belum bisa.
“Terus akhirnya nggak sekolah?” tanya Dedi.
“Iya,” jawab Agus lirih.
“Sekarang umur berapa?”
“13,” jawab Agus singkat.
“Kelas 3-nya udah lewat. Baca tulis bisa belum?” tanya Dedi lagi.
“Belum bisa,” ungkap Agus.
Lebih lanjut, Dedi langsung memberikan solusi bertahap bagi anak tersebut dengan mencarikan guru terbaik. Namun, belajarnya tidak sendiri, melainkan bersama anak-anak lain di daerah yang mengalami masalah serupa.
“Saya siapin yang ngajarin kursus baca tulis dulu ya. Kalau pendidikan tinggi, kursus dulu. Bila perlu, yang sebaya dan belum bisa baca tulis dikumpulin, bikin sanggar belajar,” paparnya.
“Di situ suruh baca tulis. Aku ingin anak-anak Jawa Barat tuh nggak tertinggal, jadi hebat-hebat gitu ya,” tuturnya.
Langkah berikutnya, menurut Dedi, setelah anak-anak lancar membaca dan menulis, mereka akan diikutkan dalam program belajar paket agar bisa mendapatkan ijazah SD, SMP, hingga SMK, sehingga bisa bekerja di pabrik.
“Nanti sudah bisa baca tulis, disuruh belajar paket. Nanti punya ijazah SD, habis itu SMP, lalu punya ijazah SMK. Kelar deh, masuk pabrik,” pungkasnya.***
Editor : Eli Kustiyawati