RADAR BOGOR – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, prihatin karena masih ada anak putus sekolah di Bekasi. Ia pun mengungkap penyebab masyarakat di daerah tersebut masih hidup dalam kesusahan.
Baru-baru ini, Dedi Mulyadi mendapat curhatan dari seorang warga Bekasi yang mengalami putus sekolah dan dipaksa mencari uang, padahal masih usia sekolah.
Sebagai Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi memahami betul kondisi masyarakat Bekasi melalui serangkaian observasi. Menurut pendapatnya, keadaan dulu dan sekarang sangat berbeda.
“Kenapa sih orang Bekasi sampai susah-susah hidupnya sekarang? Dulu nggak begitu,” ungkapnya, dilansir dari YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel pada 17 Juni 2025.
Lebih lanjut, Bapa Aing menyoroti beberapa hal mendasar yang menyebabkan area untuk mencari penghasilan sudah berubah fungsi.
Khususnya lahan pertanian yang kini semakin sempit. Hal ini membuat warga tidak lagi produktif dalam memanfaatkan hasil alam secara maksimal untuk kehidupan sehari-hari.
“Awalnya Bekasi pertanian, iya kan? Waktu pertanian, sawahnya pada luas. Ngambil belut bisa, ngambil ikan bisa. Pelihara sapi bisa, pelihara kambing bisa. Hidupnya santai, nggak susah-susah amat, kan orangnya rata-rata punya sawah, punya tanah,” paparnya.
Menurut pengamatan mendalam Dedi Mulyadi, sekarang kondisinya sudah banyak berubah. Warga setempat pun tidak lagi bisa memberdayakan apa yang dimiliki. Banyak aset dijual hingga kehilangan pekerjaan.
“Berubahlah jadi industri. Sawahnya pada dijual, kebun dijual, sapinya pada dijual,” ujarnya.
“Awalnya pada punya duit buat kontrakan, bangun rumah. Ada yang bisa bertahan, ada yang nggak bisa bertahan,” sambungnya.
Sejak menjadi kawasan industri, mulai banyak pendatang berdatangan. Menurut Dedi, hal ini membuat warga asli tersisih dan kehilangan mata pencaharian sehari-hari.
“Akhirnya masuk industri, banyak orang pendatang pada kerja di pabrik. Orang Bekasinya banyak yang tidak bisa bekerja, pada nganggur. Sawahnya sudah nggak ada, kebunnya sudah nggak ada, habis,” ucapnya.
“Akhirnya sumber kehidupannya habis, kalah bersaing, pada blangsak. Benar nggak?” pungkasnya.***
Editor : Eli Kustiyawati