Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Cerita di Balik Kampung Susuru di Ciamis Pernah Didatangi Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi: Harmoni dalam Perbedaan, Jadi Contoh Toleransi Antaragama

Gabriel Anderson Nainggolan • Kamis, 19 Juni 2025 | 10:39 WIB
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, saat sedang berbincang dengan warga Kampung Susuru di kawasan Ciamis
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, saat sedang berbincang dengan warga Kampung Susuru di kawasan Ciamis

RADAR BOGOR — Di tengah keindahan alam Ciamis, ada satu dusun kecil bernama Kampung Susuru yang menyimpan kekayaan lebih dari sekadar panorama yang juga pernah didatangi oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.

Kampung Susuru merupakan bukti hidup berdampingan secara harmonis oleh penganut Islam, Katolik, Protestan, dan Sunda Wiwitan dalam satu lingkungan.

Uniknya, tempat ibadah di Kampung Susuru saling berhadapan, bukan tersembunyi.

Masjid berdampingan dengan gereja, bale penghayat berseberangan dengan pesantren, menunjukkan toleransi nyata—bukan sekadar retorika.

1. Kehangatan Warga dalam Momen Perayaan dan Kerja Sama Kolektif

Di Kampung Susuru, warganya bukan hanya saling menghargai perbedaan, tapi juga ikut ambil bagian dalam merayakan hari-hari besar agama yang berbeda dari keyakinan mereka.

Pada momen Idul Fitri atau Natal, warga Susuru tak ragu untuk saling datang berkunjung, menyapa hangat, bahkan bergotong royong menyiapkan hidangan dan kebutuhan acara. Semua dilakukan lintas iman tanpa sekat.

Perilaku ini muncul bukan karena instruksi, melainkan hasil kesadaran turun-temurun yang lahir dari tradisi silih asah, silih asih, silih asuh, yakni nilai budaya Sunda yang tercermin nyata di sini.

2. Ibadah Bergantian, Harmoni Terjaga

Di Dusun Susuru, setiap umat beragama saling menghormati waktu ibadah masing-masing.

Waktu pelaksanaan ibadah diatur sedemikian rupa agar tidak saling bersinggungan, sehingga tiap umat bisa menjalankan ritualnya dengan tenang dan penuh khusyuk.

Contohnya, ketika masjid menggelar acara besar, warga yang berbeda keyakinan akan dengan sadar menyesuaikan jadwal aktivitas mereka agar tidak bersamaan.

Prinsip saling menghargai ini sudah menjadi kebiasaan tanpa perlu dipaksakan.

3. Pesan Kebangsaan Lewat Rumah Ibadah

Pemandangan rumah ibadah yang saling berhadapan bukan simbol kebetulan, melainkan cerminan nilai Pancasila yang nyata dalam kehidupan.

Susuru kerap dijuluki sebagai cerminan kecil dari keragaman Indonesia, di mana perbedaan justru menjadi fondasi persatuan, bukan sumber perpecahan.

4. Toleransi yang Dibanggakan Tokoh dan Akademisi

Kerukunan warganya tak luput dari perhatian tokoh daerah. Dedi Mulyadi, sebagai Gubernur Jawa Barat, pernah mengapresiasi Kampung Susuru sebagai lambang hidup rukun antarpemeluk agama.

Ia menyoroti bahwa keberagaman iman justru memperkaya, bukan memisahkan.

Menurut pandangan akademisi, harmoni di Kampung Susuru menunjukkan tumbuhnya semangat moderasi beragama yang lahir dari kesadaran kolektif dan tradisi panjang hidup rukun.

5. Toleransi sebagai Modal Utama Bangsa

Toleransi di Kampung Susuru bukanlah produk rekayasa, melainkan warisan leluhur yang telah mengakar dalam budaya dan pola hidup masyarakat sejak dahulu.

Baca Juga: Penanganan Gubernur Jawa Barat di Puncak Bogor untuk Selamatkan Sejumlah Wilayah, Dedi Mulyadi: yang Menikmati dari Seluruh Kebijakan Itu ya Jakarta

Kerja bakti bersama, bergantinya tempat ibadah, dan saling menghormati ritual telah membentuk kualitas kebersamaan yang baik dan menjadi contoh bagaimana keberagaman bangsa seharusnya berjalan.

Kampung Susuru bukan sekadar kampung, melainkan laboratorium hidup dari ide Bhinneka Tunggal Ika.

Sebagai miniatur keberagaman Indonesia, Kampung Susuru mengajarkan bahwa perbedaan agama, budaya, dan kepercayaan bukan penghalang, melainkan kesempatan untuk tumbuh bersama dalam semangat saling pengertian, hormat, dan gotong royong.***

Editor : Eli Kustiyawati
#Kampung Susuru #gubernur jawa barat #dedi mulyadi anak gemulai