Dijuluki Gubernur Konten, Mulyono Jilid 2 hingga dengan Sebutan Tak Pantas, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi Beri Tanggapan Santai Seperti Ini
Asep Suhendar• Selasa, 24 Juni 2025 | 10:24 WIB
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi tanggapi kritikan yang datang kepadanya.
RADAR BOGOR - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menanggapi kritikan masyarakat Indonesia yang memberikan banyak julukan kepadanya.
Dedi Mulyadi yang kini menjadi orang nomor satu di Jawa Barat memang tidak lepas dari pujian dan kritikan yang datang dari pendukung maupun orang yang tidak suka dengan kebijakannya.
Dalam sebuah video yang diunggah akun Instagram pribadinya @dedimulyadi71 Selasa (24/6/2025) Dedi Mulyadi menanggapi kritikan-kritikan yang ditujukan kepadanya.
Dedi menyebut, kritik yang ia dapatkan adalah bentuk rasa cinta dari masyarakat Indonesia terhadap dirinya.
Pria yang akrab disapa KDM itu juga mengatakan bahwa ada banyak julukan yang diberikan masyarakat kepadanya, mulai dari Gubernur Konten, Mulyono Jilid 2 bahkan dengan kata-kata kurang pantas.
"Mencintai saya ada yang memuji ada yang mengkritik. Yang mengkritik memberikan gelar kepada saya, banyak sekali gelar. Gelarnya dari mulai Gubernur Konten, Gubernur Lambe Turah, Mulyono Jilid 2, kemudian gubernur yang mungkin ya dungu gitu kan," kata Dedi Mulyadi.
Lebih lanjut, Dedi juga menyebut ada masyarakat yang memberikan julukan dengan kata-kata yang tidak pantas.
"Yang terbaru ini juga ada lagi, saya tidak tahu apakah ini ucapan ditujukan pada saya atau bukan, saya tidak tahu. Tetapi orang menanggapi bahwa ucapan itu ditunjukkan pada saya sehingga melakukan pembelaan yang luar biasa," ungkap Dedi.
Menanggapi hal itu, Dedi mengatakan bahwa semuanya disikapi dengan tenang saja. Baginya, tidak masalah diberikan julukan apapun asalkan ia bisa berkontribusi dan bermanfaat untuk masyarakat Jawa Barat.
"Santai aja, gak usah bikin ribut kalau ada orang yang mengkritik tanggapi dengan rileks karena dia sayang dengan saya. Bagi saya, lebih baik dianggap pemimpin tolol tapi bisa berbuat yang terbaik bagi kepentingan masyarakatnya," sambungnya.
Dedi juga ingin menciptakan transparansi anggaran sehingga masyarakat bisa mengetahui dengan jelas anggaran yang dimiliki oleh pemerintah.
Dengan adanya transparansi anggaran ini, masyarakat yang berstatus sebagai pemangku kekuasaan tertinggi bebas untuk mengetahui dana yang dimiliki dan dialokasikan oleh pemerintah.
Dedi juga menyinggung prihal dana hibah dari pemerintahan sebelumnya, yang menurutnya hal itu tidak begitu efektif untuk membangun wilayah Jawa Barat.
Padahal, jika dana hibah tersebut dialokasikan untuk hal yang lebih bermanfaat, maka Jawa Barat bisa lebih berkembang terutama dari sektor pendidikan.
Menurut Dedi Mulyadi, masih banyak sekolah yang memiliki ruang kelas yang perlu diperbaiki, pelajar yang memerlukan beasiswa, hingga siswa miskin yang tidak bisa membeli seragam dan perlengkapan sekolah.
Dengan demikian, itu adalah respon yang diberikan oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi terhadap kritikan yang ditujukan kepadanya.***