RADAR BOGOR - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memberikan sambutan di Universitas Pakuan (Unpak) Bogor.
Dalam sambutannya, Dedi Mulyadi menegaskan ingin mengembalikan Kota Bogor sebagai pusat peradaban sunda.
"Saya ucapkan terima kasih Kota Bogor yang ingin saya kembalikan menjadi pusatnya peradabannya orang Sunda.
Pusatnya kemajuan dan pusatnya harmoni karena seluruh sendi-sendi kehidupan di Bogor," ungkapnya.
Gubernur Jawa Barat menilai, istilah Bogoh ka Bogor cukup penting.
"Cuman saya belum dapat jodoh dari Bogor itu masalahnya," tuturnya yang disambut dengan riuh tepuk tangan.
Di kesempatan yang sama, Dedi Mulyadi menyampaikan hormatnya kepada leluhur Pakuan yang menjadi inspirasi dalam kebijakan pemimpin yang harmoni.
"Bukan pemimpin populis ya. Pemimpin harmoni itu adalah kepemimpinan yang mengorkestrasi seluruh sumber daya alam dan kehidupan menjadi satu kesatuan gerak dan kemenonggalan yang lahir sebuah kebahagiaan," tuturnya.
Gubernur Jawa Barat mengungkapkan, pemimpin populis belum tentu bisa mengharmonikan.
"Kalau jadi pemimpin populis tidak akan melotot ketika orang bikin rumah di bantaran sungai.
Pemimpin populis tidak akan melotot ketika banyak warung yang memaku sebagian atribut warungnya di pohon-pohon," lanjutnya.
Dedi Mulyadi menjabarkan, yang dibutuhkan bukanlah pemimpin populis.
"Tetapi pemimpin yang mampu mengorkestrasi seluruh sumber daya alam dan sumber daya manusia menjadi satu kesatuan irama, dalam bahasa undang-undangnya manusia Indonesia seutuhnya," pungkasnya.
Dalam acara tersebut, turut hadir sejumlah pemimpin yayasan Unpak, Rektor, dan Wali Kota Bogor.
"Bapak ini jadi rektor sangat pas karena rektor tuh rata-rata kepalanya pelontos jadi pas banget, tepuk tangan ya," ujarnya.
Gubernur Jawa Barat juga menyapa tim kepresidenan bidang informasi dan komunikasi kepresidenan, Ujang Komarudin.
"Mudah-mudahan hari ini bisa mengkomunikasikan apa yang harus kita siapkan dalam mengelola sistem kepemimpinan kita kini dan ke depan," tandas Dedi Mulyadi.
Editor : Siti Dewi Yanti