RADAR BOGOR - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menanggapi isu yang tengah ramai diperbincangkan, yaitu terkait penambahan jumlah siswa di sekolah negeri menjadi 50 orang per kelas.
Dedi Mulyadi menjelaskan bahwa jumlah 50 siswa per rombongan belajar (Rombel) itu adalah batas maksimal, sehingga bisa saja sekolah memiliki siswa 30 hingga 45 siswa per kelas.
"Hari ini ramai memperbincangkan kebijakan Gubernur, bahwa sekolah maksimal bisa menerima siswa 50 orang, kalimatnya maksimal artinya bisa dalam kelas itu 30, bisa 35, bisa 40," kata Dedi Mulyadi.
Baca Juga: Bebas dari Penjara, Pria Asal Garut Ini Ditawari Pekerjaan oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi
Lebih lanjut, Dedi Mulyadi ini juga menjelaskan terkait alasan dibalik kebijakannya tersebut. Menurutnya, masih banyak anak di Jabar yang harus putus sekolah akibat tidak diterima di sekolah negeri.
Dedi Mulyadi mengatakan, salah satu faktor yang menyebabkan anak tidak diterima di sekolah negeri adalah kemampuan ekonomi orang tua yang terbilang rendah.
"Apabila di daerah tersebut banyak siswa yang dekat dengan sekolahnya punya kemampuan ekonominya rendah sehingga ketika tidak diterima oleh sekolah negeri maka dia akan putus sekolah karena ketidak mampuannya," ungkap Dedi Mulyadi.
Baca Juga: Rencanakan Aksi Terlarang, Belasan Pemuda Diringkus Tim Patroli Perintis Presisi Polres Metro Depok
Dalam hal ini, Dedi Mulyadi menyebut salah satu faktor yang membuat orang tua tidak mempu membiayai anaknya untuk sekolah adalah ongkos yang terlalu mahal karena jarak dari rumah yang cukup jauh.
Maka dari itu, Dedi Mulyadi menjelaskan daripada anak di Jabar tidak sekolah, lebih baik jumlah rombel anak menjadi 50 orang per kelas.
Dedi Mulyadi juga menegaskan bahwa nantinya Pemprov Jabar akan memberikan bantuan berupa penambahan ruang untuk sekolah tersebut.
"Daripada anak Jawa Barat tidak sekolah ia lebih baik sekolah, walaupun di sekolah tersebut kelasnya 50. Itu kelasnya 50 awal, karena nanti di tahun ajaran berikutnya di semester berikutnya pemerintah Jawa Barat pasti membangun ruang kelas baru," ujarnya.
Sehingga dengan ruang kelas baru yang akan diberikan kepada masing-masing sekolah diharapkan bisa menurunkan kembali jumlah siswa per kelasnya menjadi 30 hingga 35 orang.
Kebijakan tersebut diambil oleh Dedi Mulyadi karena menurutnya sedang berada dalam kondisi darurat.
Dedi Mulyadi menuturkan, daripada anak Jabar keluyuran tidak jelas, lebih baik mereka sekolah meski dengan ruang kelas yang sederhana.
"Kenapa cara ini dilakukan, ini darurat karena daripada rakyat tidak sekolah lebih baik bersekolah, daripada mereka nongkrong di pinggir jalan, kemudian berbuat sesuatu yang tidak sesuai usianya lebih baik dia sekolah walaupun sekolahnya sederhana," ungkap Dedi Mulyadi.
Dedi Mulyadi mengatakan bahwa dirinya memiliki tanggung jawab yang besar terhadap pendidikan anak di wilayah yang dipimpinnya.
Maka dari itu, Pemprov Jabar harus bisa memfasilitasi anak-anak di Jawa Barat untuk tetap bisa mengenyam pendidikan sebagaimana yang telah diamanatkan oleh undang-undang.***
Editor : Eli Kustiyawati