RADAR BOGOR – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menanggapi dengan santai kritikan yang datang terhadap kebijakan-kebijakan yang telah dibuatnya.
Dedi Mulyadi, yang kini menjadi pemangku kekuasaan di Jabar, menjelaskan bahwa kritikan tersebut banyak berasal dari orang-orang yang berdomisili di Jakarta.
Ia menduga orang-orang yang mengkritiknya tersebut adalah buzzer atau influencer yang selalu memberikan perhatian lebih terhadap kebijakan yang dibuatnya.
“Hari ini saya sangat bahagia. Banyak sekali para pengamat, aktivis; enggak tahu influencer, enggak tahu buzzer; pokoknya mereka rata-rata memberikan auto kritik terhadap seluruh kebijakan yang diambil oleh Pemprov Jabar, dan mereka itu rata-rata domisilinya di Jakarta,” kata Dedi Mulyadi.
Lebih lanjut, Dedi Mulyadi menyikapi kritikan tersebut dengan begitu tenang dan menganggapnya sebagai bentuk cinta yang mereka tunjukkan untuk wilayah Jawa Barat.
Ia menyampaikan pernyataan yang cukup mengejutkan. Sebagai Gubernur Jawa Barat, ia berprasangka baik terhadap orang-orang yang memberikan kritik kepadanya.
“Mungkin mereka ingin pindah juga ke Jawa Barat agar bisa menjadi warganya,” sambung Dedi Mulyadi.
Dalam hal ini, pria berusia 54 tahun itu tidak terlalu menghiraukan kritikan tersebut. Selama ia bisa memberikan yang terbaik untuk rakyat Jabar, Dedi Mulyadi akan terus fokus pada kebijakan yang ia buat.
Diketahui, ada beberapa kebijakan Dedi Mulyadi yang menuai kritik, baik dari masyarakat Jabar maupun dari wilayah lain.
Misalnya, penambahan jumlah siswa per kelas menjadi 50 orang untuk sekolah negeri, hingga perubahan nama RSUD Al Ikhsan yang tidak lepas dari sorotan.
Berbicara tentang perubahan nama RSUD Al Ikhsan menjadi Rumah Sakit Welas Asih, Dedi Mulyadi mengungkapkan bahwa ada banyak kritik yang datang kepadanya, termasuk tudingan bahwa dirinya anti-Islam.
Menurut Dedi Mulyadi, rumah sakit seharusnya tidak hanya mementingkan masalah nama. Yang paling penting adalah pelayanan maksimal kepada masyarakat.
Dengan kata lain, nama-nama yang indah akan terasa percuma apabila kualitas pelayanan yang diberikan kepada pasien tidak maksimal.
“Menggunakan nama-nama yang indah harus seiring dengan kualitas layanan yang lebih baik, apalagi jika menggunakan nama-nama yang sakral dan spiritual,” ucap Dedi Mulyadi.
Dengan demikian, Dedi Mulyadi tetap teguh dengan kebijakan yang dibuatnya meski banyak kritik yang datang, termasuk dari orang-orang di luar Jawa Barat.***
Editor : Eli Kustiyawati