Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Pidato Gubernur Jawa Barat Tanpa Teks, Dedi Mulyadi Beberkan Alasannya

Siti Dewi Yanti • Rabu, 9 Juli 2025 | 04:25 WIB

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi membeberkan alasan pidato tanpa teks
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi membeberkan alasan pidato tanpa teks

RADAR BOGOR - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi ikut hadir dan memberikan sambutan atau pidato di acara pertemuan Marga Simbolon.

Di kesempatan tersebut, Dedi Mulyadi mengungkapkan alasannya tidak pernah membawa teks di setiap kesempatan memberikan pidato.

"'Kang Dedi, kenapa pidatonya tanpa teks?"' Karena saya gubernur," tuturnya.

Baca Juga: Tercatat 571 Ribu Rekening Bansos Diduga Terlibat Game Online Terlarang, Pemerintah Lakukan Penelusuran

Gubernur Jawa Barat mengungkapkan, ingin menyampaikan pesan yang hadir dari hati.

"Saya ingin menyampaikan pesan dari yang hadir dari jiwa saya," sebutnya.

Dedi Mulyadi membeberkan, ingin menjadi pemimpin yang original menyampaikan sesuatu berdasarkan pikiran dan perasaannya.

Baca Juga: PSG vs Real Madrid di Piala Dunia Antarklub Dini Hari Nanti, Reuni Pertama Mbappe

"Kalau saya pakai teks, saya tidak lagi jadi gubernur. Saya lagi menjadi pembaca pidato dari staf saya yang saya bacakan," pungkasnya.

Gubernur Jawa Barat menuturkan, konsep kepemimpinan seperti ini disebut konsep kepemimpinan otentik, yang ingin dikembangkan.

"Karena konsepsi kepemimpinan otentik, maka marah harus kelihatan marahnya, maka sedih harus kelihatan sedihnya. Maka bahagia harus kelihatan bahagianya," ujarnya.

Baca Juga: Warga Temukan Bayi di Ciampea Kabupaten Bogor, Petugas Langsung Bawa ke Rumah Sakit

Oleh karenanya, Dedi Mulyadi tidak pernah menahan apapun dari diri.

"Kalau saatnya ada di samping saya lagi joget, saya ikut saya joget. Jogetnya spontan karena memang saya enggak pernah joget dan jarang," ungkapnya.

Kemudian, Gubernur Jawa Barat menambahkan, jika ada masyarakat yang harus diluruskan, maka dirinya harus marah.

"Kenapa? Harus, karena bagi saya mau populer, mau tidak populer, mau disukai, mau tidak disukai, saya harus melakukan itu. Kenapa harus dilakukan itu? harus diingatkan," tegasnya.

Baca Juga: PKH dan BPNT Tambahan Cair Rp400 Ribu di Saat Pemerintah Bekukan 10 Juta Rekening Tak Valid

Dedi Mulyadi menilai, harus diingatkan dan tidak peduli dengan penilaian orang lain.

"Tidak boleh tidak diingatkan. Mau divideo mau enggak diideo terserah orang menilai apa. Kenapa? Karena yang salah, yang perlu diluruskan," pungkasnya.

Menurut Gubernur Jawa Barat, yang harus diperbaiki harus diungkapkan pada saat itu juga.

Kalau ada waktunya menangis, ya saya menangis. Karena apa? Saya mengikuti perasaan saya.

"Perasaan manusia itu ada tiga. Yang membawa dia sedih, yang membawa dia bahagia, yang membawa dia marah," ucapnya.

Baca Juga: Ambil Bantuan Beras 20 Kg lewat PT Pos Mulai Rabu, Ini 3 Syarat Penting yang Harus Disiapkan KPM

Perasaan manusia, Dedi Mulyadi melanjutkan, esensinya cuma satu.

"Marah karena cinta, sedih karena cinta, bahagia karena cinta. Kalau sumbernya sama, menurut saya bersumber pada nilai yang sama, caranya yang berbeda," tandas Gubernur Jawa Barat.

Editor : Siti Dewi Yanti
#dedi mulyadi #gubernur jawa barat #Simbolon