RADAR BOGOR – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, belum lama ini merespons bencana banjir yang terjadi di wilayah Tamansari, Bogor, dengan meminta penghentian pembangunan lapangan golf di kawasan kaki Gunung Salak.
Dedi Mulyadi juga menyampaikan bahwa pembangunan proyek tersebut harus dihentikan karena AMDAL-nya belum tersedia hingga saat ini.
Pernyataan Gubernur Jawa Barat tersebut telah diunggah dalam kanal YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel pada 9 Juli 2025.
“Saya minta proyeknya dihentikan dulu, ya, karena AMDAL-nya belum ada sampai sekarang. AMDAL-nya belum ada, dan banjir terjadi di bawah,” tuturnya.
Lebih lanjut, Dedi Mulyadi menjelaskan bahwa selama ini ia selalu mendukung berbagai kegiatan yang tidak menimbulkan implikasi terhadap lingkungan. Namun, jika kegiatan tersebut berdampak negatif, akan ditindak tegas.
“Biasanya saya juga bantu, loh, kegiatan-kegiatan yang tidak punya implikasi lingkungan. Tapi kalau kegiatan yang punya implikasi lingkungan menimbulkan banjir di bawah, resapan air menurun, ya saya harus bertanggung jawab dong,” paparnya.
Dedi Mulyadi menegaskan bahwa sikap tersebut merupakan bentuk komitmennya sebagai gubernur, meskipun masa jabatannya belum genap satu tahun.
“Walaupun gubernurnya baru empat bulan, karena komitmen saya adalah nggak boleh lagi ada bencana di Jawa Barat, gitu,” ujarnya.
Saat melakukan inspeksi mendadak di kantor PT RSB Unit Ciomas, Bogor, Dedi Mulyadi, yang didampingi Camat Tamansari, menjelaskan bahwa kawasan kaki Gunung Salak seharusnya terlindungi agar terhindar dari banjir, longsor, dan bencana lainnya.
“Ini kan kaki Gunung Salak, loh. Harusnya daerah sini terbebas dari berbagai aktivitas. Semuanya hutan, baru aman,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa biaya pemulihan bencana jauh lebih besar dibandingkan investasi itu sendiri.
“Karena recovery bencana itu, Pak Camat, lebih mahal dari uang yang didapat dari investasi,” tandasnya.
Selanjutnya, Dedi Mulyadi juga mengungkapkan bahwa wilayah Jawa Barat sering dikepung bencana karena adanya perubahan peruntukan lahan.
“Karena Jawa Barat itu, pada akhirnya, dikepung bencana karena perubahan peruntukan lahan. Coba, gunung diubah jadi begini, dataran tengahnya, sungainya menyempit, ada perumahan di pinggir sungai. Daerah Bekasinya rawa-rawanya diuruk. Ya kalau banjir, itu otomatis. Saya hari ini meminimalisir saja,” ungkapnya.***
Editor : Eli Kustiyawati