RADAR BOGOR - Direktur Eksekutif Lingkar Madani (Lima) Indonesia, Ray Rangkuti menilai, gaya kepemimpinan Dedi Mulyadi sebagai Gubernur Jawa Barat juga dilakukan pemimpin lain di dunia.
"Ini bukan gejala baru sebetulnya," ujar Ray Rangkuti saat membahas Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi dalam podcast Vinus Forum.
"Maksud saya, efek dari media sosial ini ada model kepemimpinan yang seolah-olah aturan itu sangat tergantung pada langkah dia dan persetujuan publik melalui media sosial," jelas Ray.
Ia menyontohkan, Presiden Amerika Donald Trump dalam menjalankan pemerintahan.
"Kita lihat, model-model kayak begitu juga, dia mengabaikan banyak sekali aturan di lingkungan negaranya sendiri," tutur Ray.
Tapi, kata dia, umumnya memang mendapatkan kesan positif di mata masyarakat.
Ray menyontohkan, Donald Trump melakukan penyerangan ke negara lain.
"Itu kan menurut orang Amerika melampaui konstitusi, karena ini konstitusi dia itu harus melalui persetujuan DPR kayak kita sebetulnya," paparnya di hadapan Koordinator Komite Pemilih Indonesia (TePI), Jeirry Sumampow dan Founder Vinus, Yusfitriadi.
"Tapi, dia jalan terus karena publik setuju, karena publik senang," sambung Ray.
"Jadi yang mau kita katakan ini, adalah model Dedi Mulyadi ini lagi memang agak banyak gitu," jelas Ray.
Ray menilai, gaya kepemimpinan tersebut ada positifnya karena itu bagian dari upaya transparansi tentang apa yang mereka lakukan.
Tapi, kata Ray, sebetulnya yang terjadi itu adalah pengeroposan pada sistem yang sedang berlaku.
Ray menyontohkan, apakah pembuatan tentang jam malam itu sudah melalui konsultasi dengan DPRD atau juga dengan pemerintah daerah (kota dan kabupaten).
"Jadi kadang-kadang itu yang terlupakan dari proses-proses yang populer itu. Populer gitu, tapi pada dasarnya sebetulnya sedang menggerogoti sistem," tegas Ray.
Lebih lanjut Ray mengatakan, bukan soal baik dan tidak baiknya sistem.
Kenapa sistem itu penting? Menurut Ray, setidaknya untuk tiga hal.
Pertama, ucap Ray Rangkuti, membuat orang bekerja berdasarkan aturan yang berlaku.
Kedua, bisa dikontrol melalui sistem itu.
Ketiga, ada yang namanya keterlibatan publik.
Keempat, jelas Ray, mesti berdimensi jangka panjang.
Nah, Ray Rangkuti menilai pemimpin-pemimpin populer seperti Donald Trump dan Guernur Jawa Barat Dedi Mulyadi tersebut relatif mengabaikan empat faktor tersebut. (*)