RADAR BOGOR - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menemui keluarga korban santri yang meninggal akibat banjir dan longsor di Mega Mendung Bogor.
Diketahui, ibu korban yang berusia 56 tahun memiliki pekerjaan sebagai asisten rumah tangga (ART) dengan gaji Rp1 juta.
Dedi Mulyadi sempat berbincang dengan sang ibu dan adik korban yang sudah lulus SMA.
Gubernur Jawa Barat sempat menyinggung perbedaan penampilan antara ibu dan anak tersebut.
Menurut Dedi Mulyadi, anak perempuan ibu korban berpenampilan rapi dengan kutek yang menghiasi kukunya.
"Budakna ge beda jeung emak, budak mah tinggali kutekan alus leungeunna ge. Pedicure-medicure mah. Da ayeuna budak ayeuna mah kitu," ujarnya.
Gubernur Jawa Barat mengungkapkan, walaupun ibunya hitam, namun anaknya gagah, yang berbeda di tahun 80-an.
"Sanajan indungna rengkung hideung budakna mah gandang. Eta ciri khas zaman ayeuna beda jeung tahun 80-an," katanya.
Dedi Mulyadi menuturkan, zaman dahulu, jika ibu mulai menanam padi, anaknya yang akan memanggul.
"Indungna tanur, anakna manggul, baheula," tekannya.
Belum selesai, Gubernur Jawa Barat mengatakan, walau sang ibu hitam, tapi anaknya menggunakan perawatan kulit atau skincare.
"Duit meunang ngaramet teh pake meuli skincare atuh jangar mah," lanjutnya.
Ibu korban menyebutkan, penghasilan Rp1 juta digunakan untuk menyekolahkan anak dan memenuhi kebutuhan hidup.
Baca Juga: Jelang Masuk Sekolah, Toko Seragam di Cibinong Bogor Diserbu Pembeli
Gubernur Jawa Barat menanyakan uang jajan adik korban sehari-hari.
"Sabaraha bekal sakolah neng nuju sekolah STM?" tanyanya
"Rp25.000," jawab anak perempuan ibu korban.
Mendengar uang jajan yang cukup besar, Dedi Mulyadi memuji kehebatan sang ibu yang masih bisa menghidupi keluarganya.
"Gaji sejuta budak jajan Rp25.000 sapoe atuh Rp750ribu, Mak hebat," tandas Gubernur Jawa Barat.