RADAR BOGOR - Car Free Day (CFD) yang rutin diadakan di sepanjang Jalan Margonda Raya, Kota Depok, masih menjadi pilihan warga untuk berolahraga di akhir pekan.
Pantauan Radar Bogor di lokasi, Minggu 13 Juli 2025, sejak pukul 06.30 WIB tampak warga mulai berjalan ke Kawasan CFD Jalan Margonda Raya.
Tidak hanya yang berjalan kaki, ada yang berlari, menggunakan sepeda hingga sepatu roda di Jalan Margonda Raya.
Kebijakan yang dikeluarkan Wali Kota Depok, Supian Suri ini, tidak hanya menjadi ruang rekreasi dan olahraga, tetapi juga menggerakkan roda perekonomian warga. Termasuk anak muda.
Di CFD Depok banyak anak muda yang mencari peruntungan. Menjual beragam jenis jajanan. Paling banyak, menjual air mineral botol.
Sinta Wulandari salah satunya. Ia terlihat menenteng tas ransel. Dalam tas ransel berwarna coklat itu, berisi puluhan botol air mineral.
Kepada Radar Bogor, ia memanfaatkan CFD Depok untuk mencari cuan. "Jualan air mineral, Rp 3.500 per botol," katanya kepada Radar Bogor.
Ia mengaku, bisa mengantongi uang hingga Rp 200 ribu. Paling sedikit Rp150 ribu dari menjual air mineral. "Minimal bersih Rp 100 ribu," tuturnya.
Ia mengaku tidak sendiri berjualan di CFD Depok. Ia ada tim, jumlahnya 5 orang. Semuanya berjualan air mineral.
"Lumayan buat tambahan uang jajan. Jadi awalnya iseng saja, tapi lumayan juga ternyata," tutur remaja 16 tahun itu.
Tidka hanya berjualan air mineral. Di CFD Depok juga banyak remaja yang berjualan beragam jenis jajanan. Ada juga yang menjual aksesoris.
Bebas Pungli
CFD Depok bebas pungli. Para pedagang mengaku bisa berjualan gratis, karena tidak ada sewa lapak. Endah pedagang Kupat Tahu salah satunya.
Ia mengaku tak dipungut biaya untuk berjualan di CFD Depok. "Alhamdulillah, gratis. Siapa yang duluan aja," katanya kepada Radar Bogor, Minggu 13 Juli 2025.
Iia mengaku berangkat Deri rumah selepas solat subuh. Kemudian mendirikan meja dan memilih tempat yang dianggap strategis.
"Jadi harus lebih pagi, kalau mau buka lapak," tuturnya.
Jika sudah kehabisan lapak, para pedagang juga masih bisa berjualan. Seperti Hendri. Kehabisan lapak tak membuat dirinya kehilangan akal untuk berjualan.
Ia menenteng daganganya sembari mengalungkan barcode QRIS. Ia berjualan di tengah jalan. Sesekali bergerak mencari pembeli.
Penjual minuman itu mengaku lebih laris dengan cara berjualan diantara kerumunan ketimbang membuka lapak.
"Pernah buka lapak, tapi lebih rame saat berjualan sembari jalan gini. Jadi gak kebagian lapak tetap bisa jualan," tukasnya. (Faj)
Editor : Alpin.