RADAR BOGOR - Tidak hanya melihat areal Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi juga melihat kehidupan para pemulung yang mengais rezeki.
Salah satunya, suami istri yang tinggal di rumah hunian di sekitar TPA Sarimukti, yang berasal dari Bandung dan Sukabumi.
"Kerjanya kerja apa?" tanya Dedi Mulyadi.
"Mungut plastik, rongsok dikumpulin," jawab sang istri.
Gubernur Jawa Barat sempat menyinggung banyaknya lalat yang ada di sekitar rumah tersebut.
"Sudah biasa dengan ribuan laleur begini. Kalau makan digembrong biasa? Teteh tidur di mana?" tanyanya.
"Di sini sama suami," ujar sang istri.
Kepada Dedi Mulyadi, sang istri menjelaskan, dalam sebulan beberapa kali pulang ke rumah ibunya untuk memberikan bekal
"Paling dikasih paling Rp200 ribu, Rp100 ribu," sebutnya.
"Hebat, pokoknya bisa ngirim per minggu ke mama untuk bekal makan mama, teteh mah di sini seaya-aya," imbuh Gubernur Jawa Barat.
Dedi Mulyadi juga sempat melihat kondisi rumah suami istri, yang hanya petakan terdiri dari kasur dan motor rusak.
Terlihat di video yang diunggah di akun Youtube Kang Dedi Mulyadi Channel, dapur, kamar mandi, dan MCK tergabung dalam satu ruangan yang dipenuhi sampah.
Sang istri juga bersiap untuk memasak nasi, yang berasnya berasal dari temuan di TPA.
"Kan itu kasih dikasih sama siapa?" tanya Gubernur.
"Aa tadi nemu di landasan. Di tempat pembuangan sampah," jawab sang istri.
"Ini beas dapat nemu. Iya, makanya ini bukan beas ketan, ini beas bubuk. Beas kutuan," imbuh Dedi Mulyadi.
Gubernur Jawa Barat juga sempat menanyakan lauk pendamping yang akan dimakan oleh pasangan suami istri tersebut.
"Jadi hari ini makannya mau sama apa?" tanyanya.
"Paling sama garam," ungkap sang istri.
"Hari ini enggak punya duit sama sekali?" tanya Dedi Mulyadi.
"Enggak. Enggak punya uang sedikit pun hari ini," pungkas sang istri.
Gubernur Jawa Barat juga menuliskan respon kehidupan pasangan suami istri di TPA Sarimukti dalam akun media sosial instagram miliknya.
"Mengais butiran beras dari TPA Sarimukti. Sebuah potret pedih kehidupan," tands Dedi Mulyadi.
Editor : Siti Dewi Yanti