RADAR BOGOR - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mendatangi rumah siswa yang mengakhiri diri sendiri di Garut.
Kedatangan Dedi Mulyadi untuk mengetahui awal mula dan penyebab peristiwa naas tersebut terjadi.
Ibu korban yang bernama Fuji tersebut mengungkapkan, sang anak mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari teman sekelas dan sejumlah guru.
Fuji menerangkan, sempat dipanggil pihak sekolah karena penurunan nilai pelajaran tertentu yang dialami oleh sang anak.
"Dikasih pelajaran tugas paling mudah pun dia enggak mau ngerjain," tuturnya.
Fuji mengungkapkan, hal tersebut karena diduga sang anak merasa sakit hati oleh guru yang mengajar.
"Kenapa sakit hati sama gurunya?" tanya Gubernur Jawa Barat.
Fuji menerangkan, sang anak kerap dipermalukan dan dijadikan contoh perbuatan buruk di depan kelas oleh sejumlah guru.
"Dibilang kamu teh ABK katanya, karena dia salah rumus," ceritanya.
"Terus gurunya siapa?" tanya Dedi Mulyadi.
"Itu yang wali kelasnya, yang bilang ABK mah guru fisika ya," jawab Fuji.
"Seperti mengalami problem psikologi terhadap wali kelasnya," imbuh Gubernur Jawa Barat.
Fuji menyebutkan, sang anak seperti tidak ingin bertemu dengan guru tersebut.
"Sakitnya tuh memang, kalau ngomongin ibu guru itu teh udah weh gitu, dia tehnya kayak marah gitu Pak," jelasnya.
"Ibu dapat cerita bahwa anak Ibu diduga mengalami perundungan dari mana?" tanya Dedi Mulyadi.
"Dari temannya," jawab Fuji.
Fuji menjelaskan, sang anak dikucilkan dan dijauhi oleh teman-teman sekelas semenjak peristiwa tertentu.
"Jadi dia tuh mainnya tuh sama teman yang beda kelas terus sama di organisasi," tuturnya.
Fuji mengatakan, awal mula anaknya dikucilkan karena diduga melaporkan siswa yang menghisap vape.
"Iya disangkanya anak saya," tambahnya.
Editor : Siti Dewi Yanti