RADAR BOGOR – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menanggapi tudingan tidak berdasar terkait peristiwa meninggalnya tiga orang saat pesta rakyat atau acara makan gratis dalam rangka syukuran pernikahan putra sulungnya, Maula Akbar.
Respons tersebut sebagaimana terekam dalam akun TikTok @dedimulyadiofficial yang diunggah pada Senin, 21 Juli 2025.
Sebelum Dedi Mulyadi sebagai Gubernur Jawa Barat memberikan penjelasan secara gamblang, sempat beredar potongan pernyataan narator yang seolah menyudutkan dirinya.
“Ada kesan ini yang saya tangkap. Kalau di media sosial muncul bahwa Dedi Mulyadi seolah-olah, kalau orang Medan sebutnya, buang badan. Lepas tangan karena dia seolah-olah merasa tidak tahu. Tapi kemudian, fakta-fakta menunjukkan bahwa dia sejak awal mengetahui rencana itu,” ucap seorang narator.
Selanjutnya, Dedi Mulyadi menjelaskan secara rinci sumber kanal YouTube yang membuat narasi tersebut, beserta judul konten yang dinilainya cenderung tidak objektif.
“Assalamualaikum, sampurasun, wilujeng enjing wargi Jabar (Halo selamat pagi, warga jabar) dan seluruh warganet di mana pun berada. Semoga bahagia selalu,” tutur Dedi Mulyadi.
“Pagi hari ini saya akan menyampaikan salam buat sahabatku. Sudah lama, sudah tahunan nggak ketemu, yang memiliki channel Off The Record FNN. Yang nulis judul: Dedi Mulyadi Ngibul, Klaim Tidak Tahu Acara Makan Gratis, Tewaskan Tiga Warga, Jejak Digital Nggak Bisa Dibantah,” ungkapnya.
Dengan tegas, namun tetap tersenyum, Gubernur Jawa Barat menanggapi pernyataan dan judul dalam konten kanal YouTube tersebut. Dedi Mulyadi menegaskan bahwa jejak digital sebenarnya sangat jelas terkait acara makan gratis itu.
“Justru di jejak digital itu jelas, loh, Bang. Bahwa pada saat saya bicara dengan Aa Maula, di hari Senin, tanggal 14 Juli 2025, di situ jelas disebutkan acaranya tanggal berapa. Tanggal 18 Juli 2025. Jam berapa? Jam tujuh malam. Di mana? Di halaman Alun-Alun Garut. Bahasa saya, di lapangan,” tuturnya.
Dedi Mulyadi kembali menegaskan bahwa dirinya mengetahui tanggal, waktu, dan tempat pelaksanaan acara yang berada di halaman pinggir jalan depan Balai Niskala.
“Nah, jadi saya memang tahunya acara itu malam. Makanya ada kalimat: makan sepuasnya, tertawa sepuasnya. Artinya, kegiatan makan bakso, mie ayam, sate, seblak di konter-konter UMKM itu digelar di halaman pinggir jalan depan Balai Niskala,” paparnya.
Sedangkan peristiwa yang menewaskan tiga orang warga tersebut terjadi pada waktu siang hari dan bertempat di dalam pendopo.
“Peristiwa yang kemarin terjadi di dalam pendopo jam 13.00 siang. Dan dari jejak digital itu jelas bahwa pengetahuan saya tentang kegiatan itu adalah hari Jumat, 18 Juli 2025, jam tujuh malam di lapangan Alun-Alun Pemda Garut,” jelasnya.
Dedi Mulyadi kembali meluruskan bahwa dirinya tidak pernah ngibul, apalagi sampai buang badan. Ia bahkan menyarankan agar tayangan-tayangan ke depannya menjunjung tinggi objektivitas.
“Nah, ini buat abangku, ya. Jadi, insyaallah saya tidak ngibul. Itu yang saya ketahui peristiwanya. Untuk itu, mari kita bersama-sama menjunjung tinggi aspek-aspek objektivitas dalam setiap tayangan,” ujarnya.
Dedi Mulyadi juga memberikan kesempatan kepada pemilik konten yang membuat judul narasi tersebut untuk turut mendampingi jika masih tidak percaya saat ia dipanggil pihak kepolisian.
“Apabila Abang nggak percaya sama saya, nanti apabila ada panggilan dari kepolisian dan saya dimintai keterangan, saya ajak deh Abang untuk dampingi saya,” ucapnya.
Tak lupa, Dedi Mulyadi juga menawarkan agar momen tersebut dapat diliput agar semua pihak bisa melihat dengan jelas prosesnya.***