RADAR BOGOR - Ada berbagai biang masalah yang harus segera diselesaikan diungkap Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
"Tata ruang kita tidak mengerti akan wiwitan. wiwitan teh asal muasal, di mana asalna diciptakeun gunung? di mana asalna diciptakeun tanah? di mana asalna diciptakeun cai? di mana diciptakeun laut? di mana diciptakeunana? eta ilmu geologi jadi dasar pembangunan tata ruang," jelas Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi saat menghadiri perayaan HUT Kabupaten Purwakarta.
Kepada para pejabat yang hadir, Dedi Mulyadi mengungkapkan, penyebab keambrukan Jawa Barat (Jabar), kerusakan lingkungan, penyakit, bencana yang tidak berhenti.
Menurut Gubernur Jawa Barat, para penyusun tata ruang tidak ngerti wiwitan, akhirnya tidak mengerti ilmu geologi.
Akhirnya, kata Dedi Mulyadi, tata ruang disusun berdasarkan kepentingan ekonomi, kepentingan pariwisata dan berbagai kepentingan pembangunan tetapi tidak melihat kebutuhan masa depan.
Apa yang terjadi? Gubernur Jawa Barat menjelaskan, bencana lebih mahal daripada nilai bangunan itu sendiri.
"Ini perlu saya sampaikan untuk apa? Jadi Sunda Witan adalah ilmu geologi," tegas Dedi Mulyadi.
"Kerangka inilah yang merusak cara berpikir kita. Mari kita lihat berapa penghasilan APBD Kabupaten Purwakarta, pendapatan asli di daerahnya," sambung Gubernur Jawa Barat.
Padahal, kata Dedi Mulyadi, pasirnya sudah dikeruk, gunungnya sudah ditebas, pohonnya sudah hilang, setiap hari pabrik-pabrik keluar nimba.
"Berapa PAD-nya? tidak akan sampai Rp9 triliun," ungkap Gubernur Jawa Barat.
Lebih lanjut Dedi Mulyadi mengatakan, berapa penghasilan Kabupaten Badung, Bali yang tidak menebas pohon, yang tidak membongkar sungai, yang tidak membongkar lingkungannya hampir tidak ada pencemaran.
"Ternyata orang yang merawat alam jauh lebih makmur dibanding dengan yang merusak alam," tegas Gubernur Jawa Barat.
Menurut Dedi Mulyadi, di manapun negara-negara yang mengelola alamnya dengan baik, yang mengelola sumber daya alamnya dengan baik, negaranya tumbuh menjadi negara yang kaya raya.
Tetapi sebaliknya, jelas Gubernur Jawa Barat, di negara-negara yang mengelola sumber daya alamnya secara ugal-ugalan melakukan eksploitasi tanpa henti, tanpa mempertimbangkan aspek ekologi, pembangunan yang berkesinambungan yang menganggap Indonesia adalah warisan bagi dirinya, bukan titipan dari luhurnya.
"Apa yang terjadi? Kerusakan lingkungan tidak henti, bencana tidak pernah berakhir, kekurangan air dalam setiap waktu, kemiskinan tidak pernah berakhir," tutur Dedi Mulyadi.
Selain itu, kata Gubernur Jawa Barat, rakyat yang miskin dan tumbuh menjadi preman di setiap sudut.
"Setiap sudut penambangan premanisme pasti selalu tumbuh," kata Dedi Mulyadi.
Gubernur Jawa Barat menegaskan, ada banyak korupsi, pengemplangan pajak yang tidak pernah berhenti.
"Patpat gulipat dalam menyusun pajak untuk dibayarkan itu terjadi. Saya tidak melihat kejujuran mereka," pungkas Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim