Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi Menanggapi Video Viral Dua Penyandang Disabilitas yang Diusir dari Asrama, Ini yang Sebenarnya Terjadi

Fera Yulia Wati • Jumat, 25 Juli 2025 | 08:20 WIB
Dedi Mulyadi bertemu kedua penyandang disabilitas yang dikabarkan diusir dari asrama.
Dedi Mulyadi bertemu kedua penyandang disabilitas yang dikabarkan diusir dari asrama.

RADAR BOGOR – Melalui akun YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel, Gubernur Jawa Barat bertemu dengan dua penyandang disabilitas yang viral karena beredarnya video mereka diusir dari asrama.

Dua penyandang disabilitas tersebut bernama Wilda dan Kiki. Wilda duduk di bangku kelas 11, sementara Kiki masih kelas 6.

Rumah asli Wilda berada di Bandung. Ayahnya bekerja sebagai tukang ojek daring, sementara ibunya seorang asisten rumah tangga.

Wilda merupakan siswi di SLB Pajajaran Kota Bandung, tetapi tinggal di asrama di Cimahi yang dikelola oleh Dinas Sosial Provinsi.

Kronologi terjadinya kesalahpahaman dalam video pengusiran dua siswi tersebut berawal dari adanya miskomunikasi mengenai alasan pengosongan asrama dan cara pembongkaran kamar.

Anggita, pendamping dari Wilda dan Kiki yang berasal dari Dinas Pendidikan, mengatakan bahwa pada tanggal 14 Juli ada informasi mengenai rencana pengosongan asrama.

Pengurus asrama menyebutkan bahwa tujuan pengosongan kamar adalah untuk menjaga keamanan, yakni dengan memisahkan antara asrama laki-laki dan perempuan.

Anggita mengatakan bahwa pihaknya tidak keberatan terkait pemindahan tempat tinggal kedua siswinya, namun mereka merasa kaget dengan cara pengosongan kamar tersebut.

“Dan terakhir, teh, beliau teh sampaikan besok di hari Rabu, tanggal 23 Juli. Nah, kata saya teh, saya konfirmasi ulang. 'Oh iya, Pak. Nanti ya, tunggu saya pulang sekolah,' karena memang asramanya, kamarnya dikunci. Jadi, barang-barang belum bisa dikeluarkan,” ucap Anggita.

“Tapi ternyata bapaknya teh bilang, 'Oh, nggak, Teh. Ini sudah dibongkar.' Jadi yang bikin saya kagetnya tuh itu, Pak. Sebetulnya, untuk disatukannya dengan PPSGHD itu sendiri kami nggak masalah ya, Pak. Tapi cara pengosongannya yang memang jadi masalah,” ujarnya lagi.

Sejak tanggal 15 Juli, Anggita kemudian menunggu selama sepekan mengenai kejelasan penempatan Wilda dan Kiki, serta alih fungsi dari asrama putri tersebut. Hingga saat pembongkaran, belum ada surat pemberitahuan yang diberikan.

Andin, pengurus asrama, mengatakan bahwa alasan pembongkaran dilakukan dengan cepat adalah karena akan ada anak laki-laki lainnya yang segera masuk.

Sebenarnya, mereka hanya ingin memindahkan kamar Wilda dan Putri dari asrama putra ke asrama putri, bukan mengusirnya.

Karena penyebab dari isu pengusiran dua penyandang disabilitas ini adalah kesalahpahaman dan kurangnya komunikasi, Dedi Mulyadi akhirnya meminta agar Andin dan Anggita saling meminta maaf dan berjabat tangan. ***

Editor : Eli Kustiyawati
#dedi mulyadi #penyandang disabilitas #gubernur jawa barat #bandung #viral #slb