RADAR BOGOR - Beberapa waktu lalu, Atalia Praratya memberikan kritik terhadap kebijakan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi yang menambah jumlah siswa per kelas menjadi 50 orang.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi akhirnya memberikan respons terhadap kritikan yang disampaikan oleh istri Ridwan Kamil, Atalia Praratya itu dengan begitu sangat tenang.
Ucapan terima kasih disampaikan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atas kritikan Atalia Praratya.
"Buat ibu Atalia saya mengucapkan terima kasih atas kritiknya dan merasa prihatin atas ruang kelas di Jawa Barat yang diisi oleh 43 sampai 50 orang siswa," kata Dedi Mulyadi.
Lebih lanjut, orang nomor satu di Jabar itu lantas mengatakan tidak semua sekolah menerapkan kebijakan tersebut, karena hanya ada tiga pilih delapan sekolah saja.
Dedi juga mengungkapkan alasan di balik kebijakannya menambah jumlah siswa per kelas menjadi 50 orang, yaitu atas dasar pertimbangan anak tetap melanjutkan pendidikan.
"Dan tidak semuanya bu, hanya 38 sekolah yang merekrut 43 sampai 50 siswa dan itupun kami lakukan terpaksa dibanding mereka tidak sekolah," sambung Gubernur Jawa Barat itu.
Pria berusia 54 tahun itu juga mengatakan alasan yang lain, yaitu berkaitan dengan jarak rumah dan sekolah yang dinilai cukup dekat.
Sehingga jika dipaksakan harus sekolah dengan jarak yang cukup jauh, menurutnya anak bisa saja putus sekolah.
Di samping itu, Dedi Mulyadi juga merespons terkait kritikan Atalia yang membandingkan kebijakan tersebut dengan Sekolah Rakyat yang dikelola oleh Kemensos.
"Tidak bisa juga ibu sebagai Komisi Bidang Sosial memperbandingkan dengan sekolah rakyat yang kelasnya 25," ujar Dedi Mulyadi.
Mantan suami Anne Ratna Mustika itu menyebut bahwa Sekolah Rakyat mendapat atensi khusus dari Presiden Prabowo Subianto sehingga tidak bisa dibandingkan dengan sekolah yang dikelola oleh Disdik Jabar.
Tidak berhenti sampai di situ, gubernur yang identik dengan pakaian serba putih itu juga balik mengkritisi terkait pembangunan sekolah pada masa pemerintahan Ridwan Kamil.
Menurut Dedi Mulyadi, sejak tahun 2020 pembangunan sekolah baru di Jawa Barat sangat sedikit sehingga tidak cukup untuk menampung siswi cukup banyak di wilayah tersebut.
"Di provinsi Jawa Barat sejak tahun 2020 sampai saat ini membangun sekolah barunya sangat sedikit," ungkap Dedi Mulyadi.
Ia tidak lupa untuk memaparkan data terkait pembangunan sekolah di Jawa Barat.
Yang mana menurut penamparan Dedi Mulyadi, di tahun 2020 tidak ada satu pun pembangunan sekolah baru di Jabar untuk jenjang SMA dan SMK.
Baru pada tahun 2021, Pemrov Jabar yang pada saat itu di bawah kepemimpinan Ridwan Kamil membangun sekolah baru SMA sebanyak dua unit.
Begitu pula pada tahun 2022, di Provinsi Jawa Barat ini hanya dibangun satu unit sekolah dan di tahun 2023 membangun emam unit, yaitu satu SMA, tiga SMK, dan dua SLB, dan jumlah itu kembali berkurang di tahun 2024.
Sementara itu, Dedi Mulyadi mengungkapkan tahun 2025, telah ada progres pembangunan yang jauh lebih banyak.
"Ada15 unit, 11 SMK, 2 SLB dan 2 SMK. Insyallah bu tahun depan saya akan membangun 50 unit," pungkas Dedi Mulyadi.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga