RADAR BOGOR - Anggota Komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyar (DPR) yang juga istri mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mwmberi komentar soal kebijakan Dedi Mulyadi.
Komentar Atalia tersebut dilontarkan saat berkunjung ke Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) di Cimahi.
Salah satu awak media mengatakan, kondisi sekolah rakyat berbeda dengan sekolah umum.
"Tapi kontradiksi Bu, antara kondisi di sini dengan sekolah pada umum ini Bu," tutur salah satu wartawan.
"Betul sekali, ini adalah bentuk upaya kita terus memperbaiki diri," ujarnya.
Atalia menyebutkan, menyaksikan satu kelas sekolah rakyat terdiri 25 siswa.
Baca Juga: Pemkab Bogor Warnai Tembok Jalan dengan Merah Putih, Tutupi Coretan Liar Jelang HUT ke-80 RI
"Bahwa kemudian saya menyaksikan sendiri ternyata 25 orang di satu kelas itu adalah yang saya kira sangat manusia," ungkapnya.
Atalia menambahkan, berdasarkan aturan kementerian, paling banyak berisi 36 siswa.
"Bagaimana mungkin anak-anak bisa nyaman kalau seandainya mereka duduk berhimpitan, belum gerahnya, belum kemudian mereka beraktivitas apapun itu akan sangat sulit sekali," tambahnya.
Baca Juga: Kopi Tuku Menyapa Dunia! Dari Cipete ke Amsterdam, Menyuguhkan Rasa Tetangga ke Hati Eropa
Atalia meminta agar kebijakan tersebut dipelajari terlebih dahulu dan harus disesuaikan.
"Jadi jangan merasa bahwa ini adalah sebuah yang sempurna sebelum kita kemudian melakukan perbandingan," ujarnya.
Istri mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil ini meminta agar kebijakan tersebut didiskusikan terlebih dahulu.
Baca Juga: Kabupaten Bogor Pacu Reformasi Birokrasi: Sekda Pimpin Persiapan Menuju Indonesia Emas 2045
"Saya banyak mendapatkan masukan curhatan dari para guru ya, yang mereka kerepotan. Bayangkan ngurus anak saja 25 repot apalagi dua kali," pungkasnya.
Apalagi, Atalia melanjutkan, di masa-masa usia remaja.
"Jadi saya kira tolonglah kalau pemimpin ini dipikirkan begitu. Jangan urusan kuantitas saja yang diberikan, tapi kualitas," tandasnya.
Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menanggapi komentar Atalia mengenai kelas berisi 50 siswa.
Dedi Mulyadi mengucapkan terima kasih atas kritiknya.
"Merasa prihatin atas ruang kelas di Jawa Barat yang diisi 43 sampai 50 siswa," katanya.
Baca Juga: Peringati WHNCD, Rumah Sakit Ummi Bogor Bersama KODI Ortopedi THT-BKL Lakukan Operasi Gratis
Gubernur Jawa Barat mengatakan, tidak semua sekolah merekrut lebih dari 25 siswa.
"Hanya 38 sekolah yang merekrut 43 sampai 50 siswa, kami lakukan terpaksa dibanding tidak sekolah," tandas Dedi Mulyadi.
Editor : Siti Dewi Yanti