RADAR BOGOR - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi bertemu dengan Indah Aprianti salah satu kades di Kecamatan Ciasem, Kabupaten Subang di Lembur Pakuan.
Indah Aprianti merupakan Kepala Desa Ciasembaru, Kecamatan Ciasem, Kabupaten Subang, Jawa Barat yang sempat menyedot perhatian karena usianya yang masih muda.
Tak hanya dengan Indah, Dedi Mulyadi juga bertemu salah satu kades dari Jawa Tengah yang cukup populer yakni Hoho Alkaf.
Berbagai persoalan dibahas gubernur Jawa Barat dalam pertemuan itu khususnya yang berkaitan dengan pengelolaan dana desa di wilayah yang dipimpin sang kades (kades).
Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Desa Ciasembaru turut menjadi pertanyaan gubernur Jawa Barat.
Saat mendapat pertanyaan itu, Indah menjelaskan bahwa BUMDes di desanya sudah berjalan salah satunya mengelola ternak ayam petelur yang sudah bisa menghasilkan keuntungan.
"BUMDes sudah berjalan sekarang memang permodalannya baru di tahun ini dari 20 persen dana desa ketahanan pangan untuk peternakan ayam petelur, ada budidaya ikan nila juga," ujar Kades Ciasembaru Indah Aprianti kepada gubernur Jawa Barat dalam video yang diunggah di YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel.
Indah juga menjelaskan bahwa peternakan ayam petelur yang dikelola di desanya sudah menghasilkan keuntungan sekitar Rp2,5 juta per bulan.
Bahkan Indah sempat berkunjung ke Desa Purwasaba yang dipimpin Hoho di wilayah Kecamatan Mandiraja, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah untuk menambah pengetahuan tentang ternak ayam petelur.
"Mba Indah pernah ke Purwaseba beberapa bulan lalu, kemaren kita lihat kandangnya kita lihat ayamnya," kata Hoho Alkaf yang juga membagikan momen pertemuannya di Instagram @hoho_alkaff.
Sementara itu selain soal pengelolaan peternakan ayam petelur, gubernur Jawa Barat juga mempertanyakan kebersihan lingkungan Desa Ciasembaru, Kecamatan Ciasem.
"Sudah bersih gak? Kalau bersih saya ke sana lagi," tanya Dedi Mulyadi kepada Indah.
Kepala desa kelahiran 1995 itu pun menjelaskan di lingkungan sempat ada tempat pengelolaan sampah (TPS) tetapi akhirnya ditutup karena pengelolaannya kurang maksimal.
"Kemaren kan ada TPS udah ada pengelolanya tapi sampahnya terus numpuk karena pengangkutannya minim akhirnya TPSnya kita tutup, kita buatkan insinerator di setiap RT terus abunya dibuat paving block," jelas Indah.
Dedi pun mengapresiasi langkah Indah dalam menjalankan tugasnya sebagai kepala desa dan menyebutnya inovatif.
Editor : Eka Rahmawati