RADAR BOGOR – Dalam sebuah perbincangan hangat dan blak-blakan bersama Deddy Corbuzier di podcast Close the Door, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, kembali mencuri perhatian publik.
Kali ini, ia menyinggung sejumlah fenomena sosial yang ia anggap mencemaskan, termasuk soal anak yang mendominasi orang tua serta penggunaan anggaran negara untuk kepentingan pribadi pejabat.
Percakapan dibuka dengan laporan Deddy Corbuzier mengenai seseorang bernama Timoti Ronald yang menyebut bahwa orang yang rutin nge-gym itu "goblok".
Menanggapi hal tersebut, Dedi Mulyadi dengan santai berkata, “Sayangnya enggak lapor ke saya, ya. Kalau lapor ke saya, saya bawa ke barak tuh,” ujarnya sembari tersenyum.
Namun, diskusi segera berubah arah ketika Dedi menyinggung kondisi masyarakat saat ini, terutama relasi antara anak dan orang tua yang menurutnya telah mengalami pergeseran nilai yang mengkhawatirkan.
“Anak yang memaksa orang tuanya beli HP, anak yang maksa beli motor. Hari ini terbalik, orang tua di bawah kendali anak,” ujarnya lugas.
Ia menilai bahwa banyak anak muda kini tumbuh tanpa pemahaman nilai-nilai kedisiplinan dan tanggung jawab.
Tak jarang, kata Dedi, orang tua justru tunduk pada tuntutan konsumtif anak-anak mereka, tanpa mempertimbangkan kemampuan finansial atau dampak jangka panjang.
Sindiran untuk Gaya Hidup Pejabat: Jalan-jalan Boleh, Asal Jangan Pakai Uang Negara
Dalam sesi lain, mertua Putri Karlina itu juga menanggapi kritik yang dilontarkan kepadanya ketika dirinya sering turun ke lapangan.
Banyak yang menyindir kegiatannya tersebut hanya sebagai “jalan-jalan” semata.
Dengan tegas ia membalas:
“Loh, jalan-jalan boleh. Tugas gubernur ya memang jalan-jalan keliling Jawa Barat, lihat keadaan rakyatnya,” tegasnya.
Yang ia soroti adalah praktik “jalan-jalan” yang dilakukan para pejabat ke luar negeri, dengan embel-embel “studi banding” atau “study tour”, namun memakai anggaran negara.
“Yang enggak boleh itu jalan-jalan ke luar negeri pakai dana negara,” tambahnya.
Menurutnya, study tour seharusnya menjadi momen belajar bagi pelajar, bukan meniru gaya pejabat yang justru menjadikan kegiatan tersebut sebagai ajang pelesiran belaka.
Ia mengkritisi bahwa budaya ini telah merembes ke dunia pendidikan dan menjadi pembenaran untuk hal-hal yang kurang relevan dengan tujuan pembelajaran.
Gaya Komunikasi Blak-blakan, tapi Sarat Makna
Dedi Mulyadi memang dikenal sebagai sosok pemimpin yang blak-blakan dan dekat dengan rakyat.
Ia sering menyuarakan kegelisahan sosial yang jarang disentuh politisi lainnya.
Gaya komunikasinya yang lugas namun penuh pesan moral menjadikannya tokoh yang kerap menarik perhatian di ruang publik maupun media sosial.***
Editor : Eli Kustiyawati