RADAR BOGOR - Jamilah tengah membersihkan kakinya. Juga sepatu bot yang ia kenakan. Ia Mengunakan genangan air di dekat Tempat Pembuangan Akhir atau TPA Cipayung Kota Depok.
Genangan air di TPA Cipayung itu cukup bersih. Warganya bening. Masih ada ikan cere berseliweran di genangan air yang ia gunakan itu.
Dengan kedua tangannya ia membasuh kedua kakinya terlebih dahulu. Selesai itu, ia membersihkan kaus kaki hitam yang ia kenakan dan sepatu untuk menapaki gunung sampah TPA Cipayung.
Wajahnya terlihat memerah, usai berpanas-panasan mengumpulkan sampah yang bisa ia jual ke pengepul. Nafas wanita mengenakan kerudung hitam dan baju hitam itu terlihat cepat.
Siang itu, Jamilah baru selesai bekerja. Menjadi pemulung di TPA Cipayung. Ia berangkat dari rumah sejak pagi dan pulang diwaktu Zuhur. Rutinitas yang ia lakukan setiap harinya. "Iya, mau pulang," katanya saat ditemui Radar Bogor.
Sudah puluhan tahun Jamilah mengais rezeki di atas gunung sampah itu. Ia mencari sampah anorganik yang bisa dijual ke pengepul. "Sudah 37 tahun. Dari anak saya masih kecil," tuturnya.
Ia mengatakan, penghasilan menjadi seorang pemulung di TPA Cipayung bisa menyekolahkan kedua anaknya hingga lulus sekolah.
Saat ini, uang yang dihasilkan dari memulung sebesar Rp50 ribu per hari. "Tapi, dikumpulkan dulu seminggu, baru di ambil," ujarnya.
Ia memaparkan, ada ratusan pemulung yang menggantungkan hidupnya di TPA Cipayung yang memiliki luas sekitar 13,4 hektare itu. "Terakhir di data itu ada 140 orang," paparnya. (faj)
Editor : Yosep Awaludin