RADAR BOGOR - Perayaan Hari Anak Nasional (HAN) tingkat Provinsi Jawa Barat yang diselenggarakan pada Minggu, 27 Juli 2025 di Sport Jabar Arcamanik, Kota Bandung, berlangsung dengan penuh kemeriahan.
Ribuan pelajar dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah kejuruan, turut memeriahkan acara tersebut.
Di tengah keramaian tersebut, sebuah penampilan unik dan penuh makna turut menyedot perhatian para hadirin.
Salah satu momen istimewa datang dari Ramdan Juniarsyah, guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dari SMK Negeri 10 Bandung.
Dikutip Radar Bogor dari kemenag.go.id pada 6 Agustus 2025, Ramdan Juniarsyah mempersembahkan sebuah pertunjukan bertajuk Dakwah Wayang, yang merupakan hasil inovasi yang memadukan nilai-nilai agama Islam dengan seni tradisional khas Jawa Barat, yakni wayang golek.
Pementasan ini bukan sekadar menampilkan lakon pewayangan, tetapi juga diwarnai dengan tausiah agama serta pertunjukan seni hadrah yang menjadikan kolaborasi ini sebagai perwujudan harmonis antara budaya dan ajaran agama.
Menurut Ramdan Juniarsyah, inspirasi dari program Dakwah Wayang berasal dari keinginannya untuk menghadirkan pendidikan agama yang lebih dekat dan menyenangkan bagi peserta didiknya.
Ia melihat bahwa generasi muda saat ini membutuhkan pendekatan yang lebih kreatif agar dapat memahami dan mencintai ajaran Islam. Salah satu strategi yang dipilih adalah dengan mengintegrasikan unsur budaya lokal ke dalam proses pembelajaran.
Dalam pementasan tersebut, Ramdan memusatkan narasi pada tokoh wayang yang sangat populer di kalangan masyarakat Sunda, yaitu Cepot.
Ia menyampaikan pesan-pesan keagamaan melalui dialog interaktif antara dirinya dengan tokoh Cepot, diselingi dengan nyanyian religi dan tabuhan hadrah yang dimainkan oleh para siswanya.
Hal ini menciptakan suasana yang hidup dan komunikatif, membuat dakwah terasa lebih akrab dan menghibur.
Ide awal dari Dakwah Wayang sendiri muncul secara tidak sengaja pada tahun 2016.
Saat itu, dalam kegiatan Kemah Rohis Nasional yang diadakan oleh Direktorat Pendidikan Agama Islam, Ramdan yang bertugas sebagai panitia diminta menampilkan sambutan untuk menyemarakkan kedatangan Menteri Agama.
Bersama para siswa yang membawa alat musik sederhana dan wayang golek, ia mengimprovisasi ceramahnya dengan nuansa seni. Ternyata, pendekatan tersebut mendapat sambutan hangat dan penuh antusiasme dari peserta kemah.
Sejak saat itu, Ramdan mulai mengembangkan konsep Dakwah Wayang secara lebih serius.
Melihat potensi besar yang dimiliki oleh siswa-siswanya, khususnya karena SMK Negeri 10 Bandung memiliki jurusan seni, Ramdan kemudian membentuk kelompok pertunjukan Dakwah Wayang.
Kelompok ini menjadi ruang bagi para siswa untuk menyalurkan bakat mereka dalam musik, pedalangan, karawitan, dan seni lainnya, sekaligus menjadi sarana dakwah yang menyentuh.
Dalam setiap pertunjukannya, Dakwah Wayang menghadirkan gabungan elemen seni seperti humor khas wayang, musik tradisional, serta lagu-lagu bernuansa islami.
Semua diramu agar pesan keislaman dapat diterima oleh semua kalangan, terutama generasi muda yang kini akrab dengan berbagai bentuk hiburan modern.
Ramdan bahkan membuka ruang kolaborasi dengan tren kekinian, seperti K-Pop, jika itu bisa menjembatani dakwah dengan minat anak muda.
Ia percaya bahwa dakwah akan lebih efektif jika disampaikan dengan cara yang membumi dan menghargai nilai-nilai budaya lokal.
Dalam pandangannya, nilai-nilai tradisi masyarakat Sunda seperti gotong royong dan kesenian tembang memiliki keselarasan dengan ajaran Islam dan bisa menjadi pintu masuk yang baik dalam berdakwah.
Namun, ia juga menyadari bahwa tidak semua aspek budaya dapat serta merta digunakan dalam dakwah.
Peran pendidik adalah untuk memberikan pemahaman secara bijak dan tidak menghakimi.
Sebagai pendidik PAI yang juga memiliki kecintaan terhadap seni, Ramdan berusaha mengembangkan metode pengajaran yang kontekstual dan relevan.
Ia mengangkat tema dakwah dan tablig dari kurikulum PAI sebagai titik tolak pendekatannya, dan menekankan kepada para siswa bahwa dakwah bisa dilakukan sesuai dengan minat masing-masing.
Baik itu melalui mimbar, musik religi, ataupun konten digital, semuanya sah selama pesan kebaikan tersampaikan.
Dalam konteks pembelajaran sejarah Islam, Ramdan juga mencontohkan bagaimana para Wali Songo menyebarkan Islam di Nusantara dengan pendekatan yang beragam.
Menurutnya, setiap wali memiliki strategi berbeda, tetapi semua berorientasi pada tujuan yang sama, yaitu mengajak masyarakat pada kebaikan.
Ramdan, yang juga dikenal dengan nama Kang Radju, menyampaikan bahwa saat ini pembelajaran agama menghadapi tantangan besar, terutama dalam menjangkau generasi muda.
Oleh karena itu, pendekatan edukatif yang kreatif dan menyenangkan harus terus dikembangkan agar pembelajaran agama tidak terasa membosankan, tetapi justru menarik dan bermakna.
Menutup refleksinya, Ramdan menyampaikan rasa terima kasih kepada Kementerian Agama, khususnya Direktorat Pendidikan Agama Islam, atas dukungan yang diberikan kepadanya untuk tampil di puncak perayaan HAN Provinsi Jawa Barat.
Ia berharap, kesempatan tersebut dapat memacu semangat para guru agama lainnya untuk semakin inovatif dalam menyampaikan pembelajaran yang berdampak positif bagi generasi masa depan. (*)