RADAR BOGOR - Saat Gubernur Jawa Barat bertemu dengan Rektor ITB Tatacipta Dirgantara, Dedi Mulyadi menyinggung soal pemanfaatan energi dari sampah.
"Nah, kemudian yang ketiga adalah pemanfaatan energi itu terlalu lama kita abai terhadap sampah," ujarnya.
Dedi Mulyadi menyebutkan, banyak yang memahami sampah sebagai musibah tetapi tidak dipahami sebagai energi.
"Pengembangan teknologi selalu dipahami terlalu hightech berbasis modal besar triliun ratus miliar. Padahal menurut saya ini tantangan ITB," pungkasnya.
Gubernur Jawa Barat menantang ITB untuk melakukan program di sekitar kampus.
"Saya nantang ITB enggak usah jauh-jauh, ITB silakan bikin pengelolaan energi berbasis sampah di lingkungan kelurahan kampus ITB," ungkapnya.
Dedi Mulyadi menekankan, biaya program tersebut akan didanai oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
"Berapa costnya, saya biayain, pemprov biayain dan ciptakan kelurahan yang di samping ITB itu ramah lingkungan," tegasnya.
Gubernur Jawa Barat menyebutkan, perguruan tinggi tidak menjadi menara gading.
Baca Juga: Panduan Lengkap: Dokumen Wajib untuk Aktivasi Rekening Insentif Guru Non-ASN Sebesar Rp2,1 Juta
"Contoh di ITB banyak ahli tata kota, di ITB banyak ahli lingkungan. Saya lihat kampus yang di Jatinangor, Jatinangor sudah dinobatkan sebagai pusat pendidikan Jawa Barat," tegasnya.
Namun, Dedi Mulyadi melanjutkan, sebagai kota pelajar atau kota mahasiswa, warung di Jatinangor berantakan.
"Kenapa warungnya berantakan? Tempat pengelolaan sampahnya tidak ada. Kemudian zebra crossnya tidak beraturan, lampu trafik lainnya tidak berjalan dengan baik," sebutnya.
Gubernur Jawa Barat mengungkapkan, mobil truk tronton dan bis setiap hari lewat.
"Kalau jam 7.00 pagi berebut nyawa dengan para mahasiswa IPDN, UNPAD, ITB. Nah, sehingga mari kita bersama-sama saya orangnya terbuka. Tahap pertama benahi sekitar kampus ini ITB di sini," tuturnya.
Dedi Mulyadi berharap, ITB berkomitmen bisa menata kawasan Jatinangor menjadi kawasan terpelajar, terbersih, teratur dan tidak ada korban jiwa dalam setiap tahun karena kecelakaan.
"Karena ilmu itu harus aplikatif, harus nyata, bukan hanya melahirkan gagasan yang dalam tesis atau disertasi," tandas Gubernur Jawa Barat.
Editor : Siti Dewi Yanti