RADAR BOGOR – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi bertemu pendeta terkait rencana eksekusi 20 gereja di Cianjur oleh pengadilan.
Dalam pertemuan tersebut, sang pendeta mengungkapkan keresahannya karena jemaat berpotensi kehilangan tempat beribadah akibat masalah kepemilikan tanah yang berujung pada sengketa utang.
Pendeta tersebut menjelaskan, tanah yang menjadi lokasi gereja awalnya merupakan hibah dari seorang misionaris.
Sang pemberi hibah lalu meninggal dunia sebelum akta hibah selesai diurus secara administratif.
“Gubernur harus menjaga ketentraman dan ketertiban masyarakat, biaya ketentraman itu lebih mahal dari Rp6 miliar,” tegasnya.
Dedi memastikan akan mengupayakan langkah terbaik demi menyelamatkan rumah ibadah tersebut.
“Tenang saja, nanti kita cari jalan supaya rumah ibadah ini selamat,” pungkasnya.
Rencana eksekusi ini menjadi sorotan publik karena menyangkut kebebasan beribadah dan kerukunan umat beragama.***