RADAR BOGOR - Dalam sambutannya saat melantik pengurus Pusdai Jabar, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyebutkan soal provinsi religius.
"Kita mendeclare diri provinsi Jawa Barat, provinsi religius. Di mana-mana, saya selalu ngomong, 'Iya, dari sisi statistik agamanya," ungkapnya.
Namun, Dedi Mulyadi mempertanyakan pengaruh agama dalama sistem pendidikan di Jawa Barat.
"Tapi apakah religiusitas itu hadir dalam sistem pendidikan kita? 600.000 ijazah orang ditahan di sekolah menurut saya tidak religius," pungkasnya.
Gubernur Jawa Barat memberikan alasan pernyataan sistem pendidikan yang tidak religius.
"Kenapa tidak religius? Kenapa Anda tidak meyakini pada Allah? Apakah kalau ijazah diberikan akan mengurangi rezeki Anda?" tanyanya.
Lebih lanjut, Dedi Mulyadi bertanya soal sekolah yang menjadi bangkrut jika memberikan ijazah pada murid yang sudah lulus.
"Apakah kalau ijazah diberikan sekolahnya jadi bangkrut? Bukankah kita itu disumpah oleh Allah untuk mencintai anak-anak yatim, menyayangi orang-orang miskin?" tanyanya.
Gubernur Jawa Barat mewanti-wanti, bisa jadi ijazah yang ditahan merupakan anak-anak yatim dan orang-orang miskin.
"Ketika kita menahannya bertahun-tahun, bahkan ada yang 20 tahun dengan tunggakan Rp1,5 juta bahkan Rp1 juta, jangan-jangan kita telah membunuh kehidupan mereka selama 20 tahun," tekannya.
Dedi Mulyadi menceritakan, kebijakan Gubernur Jawa Barat memberikan ijazah ada yang sebut bertentangan dengan prinsip akhlakul karimah.
"Kata saya, mana yang akhlakul karimah? Yang meminta memberikan ijazah, yang menentang pemberian pemberian ijazah. Ini penting," ucapnya.
Gubernur Jawa Barat menyebutkan, soal ijazah yang ditahan harus selesai dan saat ini sudah hampir selesai.
"Kenapa ini dibangun? Bukankah Islam itu mengutamakan keberpihakan pada orang-orang miskin dan anak-anak yatim," tuturnya.
Dedi Mulyadi membeberkan, tujuan mendirikan sekolah bukan mencari keuntungan.
"Kita ingin mencerdaskan orang, ingin menyolehkan orang. Rezeki itu menyusul. Kenapa? Mari kita berangkat dari tradisi yang dibangun oleh para kiai dulu," tandas Gubernur Jawa Barat.
Editor : Siti Dewi Yanti