RADAR BOGOR - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi prihatin dengan kondisi petani sekarang. Ia mengungkapkan deretan cara terbaik supaya bisa mandiri dan kaya.
Bahkan, kata Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, ada petani yang sampai jual tanah demi menyekolahkan anaknya ke jenjang pendidikan master.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dengan lantang menyebut bahwa, petani sebenarnya bisa kaya.
Ada beberapa cara mudah bisa diterapkan untuk kesejahteraan petani. Mereka tidak hanya mengandalkan pendapatan dari hasil panen, tapi masih tersedia beberapa pos penghasilan lainnya.
“Bagaimana cara membuat petani di Indonesia itu mandiri dan kaya?Satu, petani Indonesia tidak boleh beli pupuk. Dua, petani Indonesia tidak boleh beli obat-obatan. Tiga, petani di Indonesia dikasih bibit yang terbaik. Cukup itu saja,” paparnya.
Dia pun sempat menyinggung perihal asuransi saat terjadi gagal panen serta asuransi kesehatan.
Bahkan, ia juga mengkritisi luas area sawah yang kadang kala berlebihan.
Padahal, hanya sekian hektar saja sudah bikin petani sejahtera.
Asalkan siklus kehidupan petani terpenuhi.
“Nggak usah sawah 2 hektar, seperempat hektar sawah itu bisa melahirkan petani yang sejahtera. Kalau apa? Dia dibekali oleh lima ekor sapi sebagai hulu dari sistem pertaniannya. Dia dibekali dengan lima ekor domba, dibekali dengan bebek, ayam,” jelasnya.
“Maka siklus kehidupan petani itu, akan menjadikan bebek, sapi, ayam, domba, adalah sumber dari pupuk mereka. Maka, ini yang disebut dengan ekosistem pertanian,” imbuhnya.
Dedi Mulyadi mengungkap kalau selama ini, banyak petani menjerit karena ekosistemnya telah dibunuh, sudah tidak alamiah lagi.
“Kenapa petani kita menjerit terus? Karena ekosistemnya dibunuh. Nah, saya mengajak teman-teman hari ini, kembalikan lagi ekosistem,” ujarnya.
Lantas, ia juga menegaskan bahwa semua itu terjadi karena perubahan zaman, dengan meninggalkan yang lalu. Bapak Aing mengajak untuk tetap pakai tradisi tanpa meninggalkan teknologi.
“Apa sih yang membuat kita jadi begini? Dulu, kita dibikin loncat oleh perubahan zaman, tetapi ini ditinggalkan. Nah kita sekarang akan kembali lagi. Saya mengajak kembali lagi dengan tradisi, tapi dengan teknologi,” ujarnya.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga