RADAR BOGOR - Saat mengunjungi Institut Pertanian Bogor (IPB University), Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memanggil salah satu mahasiswa baru.
Dedi Mulyadi menanyakan, inti dari pembicaraannya kepada para mahasiswa baru IPB.
"Aku ngomongin apa sih?" tanyanya.
Baca Juga: UMKM Paguyuban Kuliner Desa Ciwalen Cianjur Didampingi IPB dalam Menerapkan Produksi Halal
Salah satu mahasiswa tersebut mengatakan, jika ingin membangun ekonomi keberlanjutan harus kembali ke alam.
"Alam tuh pasti enggak?" tanya Gubernur Jawa Barat.
"Alam itu pasti pasti," jawab mahasiswa tersebut.
Baca Juga: Didepak dari Skuad PSG, ke Mana Pelabuhan Donnarumma Berikutnya?
"Yang tidak pasti apa?" tanya Dedi Mulyadi.
"Yang tidak pasti janji dia," ujar mahasiswa tersebut yang disambut dengan riuhan mahasiswa lainnya.
Gubernur Jawa Barat mengungkapkan, ada janji lain yang tidak pasti.
Baca Juga: 5 Daerah dengan Pengangguran Terbanyak di Jawa Barat, Ternyata Bogor Ada di Urutan Segini
"Yang tidak pasti itu adalah janji dia dan janji politisi. Termasuk saya, saya kan politisi. Tapi politisi selalu pasti. Kepastian politisi berjanji lagi ketika ingin dipilih," sebutnya.
Dedi Mulyadi membeberkan, sama seperti janji pacar-pacar lainnya.
"Persis pacar kamu, pacar kamu juga sama. Ketika bertengkar dia berjanji untuk baik. Nanti bertengkar lagi berjanji lagi dia, sama itu kelakuannya," candanya.
Gubernur Jawa Barat menuturkan, yang pasti adalah hukum alam.
"Apa problem Indonesia? Sesuatu yang pasti selalu dilanggar. Sesuatu yang belum pasti diperdebatkan. Ya kan perdebatan di media sosial semuanya adalah memperdebatkan tafsir sosial," ujarnya.
Setiap orang berargumentasi pada tafsirnya, Dedi Mulyadi mrnambahkan, berdebat di media sosial dan TV.
"Tetapi sesuatu yang pasti tidak pernah menjadi garapan," ucapnya.
Gubernur Jawa Barat memberikan contoh alam yang tidak terurus, seperti sampah berserakan tidak ada yang ngurus.
"Air yang tercemar tidak pernah yang ngurus. bangunan-bangunan yang dibangun di daerah-daerah ketinggian yang melanggar tata ruang, tidak ada yang berkomentar," pungkasnya.
Menurut Dedi Mulyadi, kehancuran pembangunan Indonesia karena orang-orang pasti berubah menjadi ketidakpastian.
"Tata ruang di kita ini rusak. Kenapa? Karena ahli-ahli tata ruang yang punya basic IPA itu mentafsirkan," jelasnya.
Atau, Gubernur Jawa Barat melanjutkan, membuat argumentasi tentang sesuatu yang pasti menjadi kemungkinan.
"Kenapa? Karena mereka berubah ketika menjadi konsultan yang ingin menyesuaikan produk konsultannya dengan keinginan pemegang kekuasaan dan pemegang uang. Itu yang merusak ya," tandas Dedi Mulyadi.
Editor : Siti Dewi Yanti