RADAR BOGOR - Ungkap masalah pada sektor perikanan air tawar, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi tantang mahasiswa IPB University bikin pakan ikan lokal.
Melansir YouTube Lembur Pakuan Channel yang tayang pada Selasa, 12 Agustus 2025 Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menjelaskan, tantangan untuk IPB University membuat pakan ikan lokal, karena dia menilai selama ini kandungan yang ada menimbulkan dampak lingkungan.
“Yang menjadi problem produksi dari perikanan air tawar hari ini apa?,” tanya Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi pada salah satu mahasiswa IPB University jurusan manajemen sumber daya perairan.
“Bisa jadi dari pakannya,” jawab salah seorang mahasiswa.
Lantas, Kepala Daerah yang disebut Bapak Aing tersebut menyebutkan bahwa, harga pakan ikan cenderung tinggi. Karena bahan baku impor bukan dari lokal.
“Benar, harga pakannya mahal. Karena bahan baku pakannya impor,” ucap KDM.
Lebih lanjut, Dedi Mulyadi mengungkap berbagai problem perikanan air tawar lainnya selain harga pakan ikan mahal. Bahkan, ia memberikan solusi untuk bikin pakan lokal IPB.
“Bikin pakan lokal IPB, bila perlu dibiayai oleh Pemda Provinsi Jawa Barat. Karena problemnya itu harga pakannya mahal, kemudian harga jual ikannya fluktuatif,”tuturnya.
“Ditambah lagi kandungan pakannya, seringkali menimbulkan pencemaran lingkungan. Sehingga sumber daya airnya mengalami kerusakan. Dampaknya, ikannya juga tidak berkualitas,” jelasnya.
Ia kembali menjelaskan kalau air tercemar, bisa membuat ikan ikut mengandung zat berbahaya. Bahkan, akibat pencemaran yang lebih besar lagi seperti dampak dari industri, berakibat pada munculnya bakteri.
Dedi Mulyadi memaparkan bahwa, air yang tercemar bakteri jika sampai terbawa dalam tubuh ikan, lalu masuk ke badan manusia, berpotensi membahayakan kesehatan. Salah satunya bikin autis.
“Ditambah lagi, sumber airnya sudah mengalami pencemaran karena industri. Lahirlah air yang tercemar bakteri, yang kemudian bakteri itu ada di insang. Insang dimakan oleh anak-anak, sehingga anak-anak banyak mengalami penyakit autis,” paparnya.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga