Alasan Gubernur Jawa Barat Gunakan Bahasa Sunda Sehari-hari, Dedi Mulyadi: Salah Satu Strategi Lestarikan Budaya
Ummi Fadhilatul Mukarromah• Rabu, 13 Agustus 2025 | 17:50 WIB
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi
RADAR BOGOR – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, dikenal luas sebagai sosok pemimpin yang merakyat dan memiliki komitmen kuat dalam melestarikan budaya daerah. Salah satunya dengan selalu komunikasi dengan bahasa Sunda.
Lahir dan besar di Subang, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi membawa nilai-nilai budaya dalam kesehariannya, termasuk dalam cara berkomunikasi menggunakan bahasa Sunda.
Menurut Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, bahasa Sunda bukan hanya sebagai alat komunikasi, melainkan juga identitas dan warisan budaya yang harus terus dilestarikan.
Bagi Dedi Mulyadi, berbicara dengan bahasa yang dipahami masyarakat adalah bentuk penghormatan terhadap identitas daerah.
Hal ini juga menjadi salah satu strategi untuk membangun komunikasi dua arah yang efektif.
Penggunaan bahasa Sunda oleh orang nomor satu di Jawa Barat ini dinilai dapat menciptakan suasana yang akrab dan menumbuhkan rasa memiliki di kalangan warga.
Lebih dari sekadar komunikasi, upaya ini sekaligus menjadi ajakan bagi generasi muda untuk tetap melestarikan bahasa daerah di tengah derasnya pengaruh globalisasi.
Bahasa Sunda sendiri menyimpan kekayaan kosakata, ragam ungkapan, serta nilai-nilai filosofis yang merefleksikan kearifan budaya leluhur.
Namun, di era modern saat ini, penggunaan bahasa daerah mulai terpinggirkan oleh bahasa nasional maupun bahasa asing.
Melalui kebiasaannya, Dedi ingin mengajak masyarakat untuk tidak malu menggunakan bahasa Sunda dalam percakapan sehari-hari, baik di rumah, sekolah, maupun lingkungan kerja.
Dengan dukungan semua pihak, termasuk pemerintah, tokoh masyarakat, dan generasi muda, bahasa Sunda diharapkan tetap menjadi bagian penting dari identitas Jawa Barat di masa depan.
Mari bersama-sama menjaga dan merawat bahasa Sunda, bukan hanya sebagai bahasa daerah, tetapi sebagai warisan berharga yang membentuk jati diri masyarakat Jawa Barat.