Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Dijuluki Mulyono Jilid 2, Gubernur Jawa Barat Ngaku Kini Punya Lima Gelar, Dedi Mulyadi: Saya akan Menjadi KDM, Kang Duda Merajalela

Lucky Lukman Nul Hakim • Jumat, 15 Agustus 2025 | 16:53 WIB
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi terus menjadi perhatian publik.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi terus menjadi perhatian publik.

RADAR BOGOR - Viralnya sejumlah kebijakan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menjadi sorotan berbagai pihak.

Bahkan, sang Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi mendapatkan banyak julukan.

"Habis Mulyono terbit Mulyadi kan itu judul salah satu media nasional kita yang menulis dan menginvestigasi terhadap fenomena yang terjadi pada dunia politik Indonesia, dunia birokrasi dan khususnya di era kepemimpinan saya menjadi Gubernur Jawa Barat," jelas Dedi Mulyadi yang biasa disapa KDM tersebut saat podcast di Akbar Faizal Uncensored.

KDM mengaku, tidak mengetahui kenapa dirinya mendapatkan banyak julukan.

"Saya juga enggak tahu bahwa narasi itu dibuat membangun stigma apa, apa kecemasan? apa ketakutan? atau keirian atau memang lagi suka sama saya? saya kan tidak tahu," kata Gubernur Jawa Barat kepada Akbar Faisal.

"Nah, dari sisi demografi dan letak geografi kan saya menjadi aneh, ketika saya menjadi Gubernur Jawa Barat langsung diinvestigasi dan dibuat identik dengan kepemimpinan pak Jokowi. Bagi saya sih, dikasih gelar apapun, saya enggak ada masalah," tutur Dedi Mulyadi.

Tidak hanya itu, Gubernur Jawa Barat mengaku sudah mendapatkan lima gelar.

"Gelar saya kan sekarang sudah lima. Satu Mulyono Jilid 2, Gubernur konten, Gubernur Lambe Turah, terus kemudian Gubernur Pencitraan, kemudian ada lagi kalau saya KDM nih gelar saya juga kan Kang Duda Merana, kemudian setelah Kang Duda Merana menjadi Kang Duda Menyala," papar Dedi Mulyadi.

"Saya bilang, sebentar lagi tunggu, saya akan menjadi KDM yang ketiga, Kang Duda Merajalela," sambung Gubernur Jawa Barat.

Dedi Mulyadi menjelaskan, tidak ada yang berubah dari dirinya semenjak menjadi Gubernur Jawa Barat.

"Nah, apa sih sebenarnya yang terjadi, sebenarnya bagi mereka yang tinggal di Purwakarta, bagi mereka yang pernah dipimpin oleh saya, apa yang saya lakukan hari ini itu enggak ada beda dengan dulu," papar KDM.

Dedi Mulyadi menjelaskan, dulu memiliki keterbatasan karena masih minim teknologi.

"Cuma dulu saya memiliki keterbatasan ruang untuk mengekspresikan seluruh apa yang digiatkan ini," jelas Gubernur Jawa Barat.

"Mana ada dulu, misalnya televisi menyorotkan kameranya ke Purwakarta, mana ada layar-layar media digital waktu itu mengamplifikasi terhadap apa yang ada di Purwakarta," jelas Dedi Mulyadi.

"Kemudian kalaupun saya melakukan, kan biayanya mahal dan tidak mungkin kantong Dedi Mulyadi yang di Purwakarta bisa melakukan itu, dan tidak ada juga kelompok-kelompok pengusaha besar yang bisa menghandle saya pada saat itu kan gitu loh," tutur KDM.

"Nah, tetapi kan pada saat itu saya sebenarnya banyak mendokumentasikan apa yang saya lakukan dan saya simpan," ungkap Gubernur Jawa Barat.

"Nah, seluruh dokumentasi-dokumentasi yang dilakukan, disimpan itu ternyata mulai mendapat respon publik pada saat saya berhenti menjadi bupati," papar Dedi Mulyadi.

Lebih lanjut KDM mengatakan, pada saat setelah dirinya tidak terpilih menjadi Wakil Gubernur Jawa Barat dan serius membuat channel YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel, asalnya KDM TV, KDM Dedi Mulyadi Channel.

"Nah, kan orang mulai melihat sedikit-sedikit dan kemudian seluruh penglihatan itu sangat mempengaruhi pikiran publik," kata Gubernur Jawa Barat.

"Nah, kenapa sih memengaruhi pikiran publik? Karena saya dulu bermedia sosial itu tidak mau mengikuti arus. Saya tidak mau jadi follower. Saya ingin menjadi transenter," papar KDM.

Menurut Dedi Mulyadi, dirinya tidak mempermasalahkan orang yang membencinya, tidak suka terhadap apa yang ditampilkannya.

"Tetapi saya ingin di media sosial itu ada orang yang bekerja mengedukasi publik tentang berbagai hal," ungkap Gubernur Jawa Barat.

"Persoalan dari edukasi yang disampaikannya itu ternyata menimbulkan reaksi negatif, ketidaksukaan dianggap kembali ke zaman batu. Bagi saya, enggak ada urusan," sambung KDM.

"Walaupun disuruh kembali ke zaman batu, tetap batu diperlukan. Bangun rumah harus pakai batu, masak juga ada yang pasti pakai batu," pungkas Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. (*)

Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim
#dedi mulyadi #Mulyono Jilid 2 #KDM #gubernur jawa barat