RADAR BOGOR – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menerima masukan langsung dari seorang mahasiswa Universitas Padjadjaran (Unpad) terkait permasalahan di kawasan Jatinangor.
Perjalanan Dedi Mulyadi ke atas panggung terhenti sejenak ketika seorang mahasiswa Fakultas Hukum menghadangnya untuk menyampaikan dua permasalahan krusial yang ia temukan melalui studinya di Jatinangor.
Pertama, mahasiswa tersebut menyoroti sempitnya trotoar yang membuat Jatinangor tidak ramah bagi pejalan kaki.
Kedua, ia mengeluhkan tidak adanya jam pembatasan bagi truk-truk besar yang melintas, sehingga menyebabkan kemacetan dan sering terjadi kecelakaan yang menelan korban jiwa.
“Poin yang pertama terkait kurang luasnya trotoar Jatinangor, Pak, sehingga Jatinangor ini belum bisa dikatakan sebagai tempat yang ramah pejalan kaki,” jelas mahasiswa tersebut.
“Kemudian yang kedua adalah terkait dengan tidak adanya jam pembatas bagi truk-truk besar yang lewat di Jatinangor, sehingga menyebabkan kemacetan di Jatinangor yang bagi kami sebagai mahasiswa ini cukup menjadi suatu hal yang kami rasakan,” lanjutnya.
Mendengar keluhan sang mahasiswa, Dedi Mulyadi langsung memberikan tanggapan.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyatakan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah meminta Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk membuat rencana komprehensif guna menjadikan Jatinangor sebagai kota pelajar yang lebih baik.
“Kemarin saya sudah minta ITB untuk membuat areal kawasan pelajar, kota pelajar Jatinangor,” ungkap Dedi Mulyadi.
Rencana ini akan mencakup sistem manajemen lalu lintas baru dengan tujuan memulai perbaikan pada tahun berikutnya.
Dedi Mulyadi juga melayangkan kritik kepada para ahli perkotaan dan lingkungan di wilayah tersebut yang belum mengatasi masalah ini secara serius.
Untuk menindaklanjuti hal ini, Dedi Mulyadi berencana mengadakan pertemuan pada bulan September dengan perwakilan dari semua institusi pendidikan tinggi di Jatinangor.
Tujuannya adalah mengkaji masalah tersebut secara kolektif, dan hasil kajian ini nantinya akan diimplementasikan oleh pemerintah provinsi.
“Mungkin setelah ini ya nanti di September itu saya mau datang ke ITB, dan kita ngumpul aja seluruh perguruan tinggi yang ada di kawasan Jatinangor. Kita ngumpul, kemudian kita bikin kajian bersama,” pungkasnya.***
Editor : Eli Kustiyawati