RADAR BOGOR – Pada 17 Agustus 2025, upacara peringatan HUT ke-80 RI yang dipimpin Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi di Lapangan Gasibu disisipi momen unik dan menggemaskan dari anaknya, Ni Hyang.
Di tengah pidato Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang penuh semangat, putrinya yang masih kecil, Ni Hyang, mencuri perhatian seluruh hadirin.
Saat Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyampaikan pidato selama kurang lebih 19 menit, Ni Hyang yang berada di podium tiba-tiba datang mendekat.
Dengan polosnya, ia terlihat memegang pakaian sang ayah dan mondar-mandir di sekitarnya.
Meskipun putrinya bertingkah, Dedi Mulyadi tetap fokus dan sama sekali tidak terganggu.
Momen ini menampilkan sisi lain dari seorang pemimpin yang tetap profesional di tengah situasi personal yang menghangatkan hati.
“Ayah teh lagi pidato, Hyang.,” tulis Dedi Mulyadi di akun Instagram pribadinya, @dedimulyadi71.
Filosofi Kepemimpinan: Materi Digital, Pintar, dan Singer
Di balik momen hangat dengan sang anak, pidato Dedi Mulyadi membawa pesan mendalam untuk membangun pemerintahan dan masyarakat yang lebih baik, terangkum dalam tiga poin utama:
1. Materi Digital
KDM, sapaan akrab Dedi Mulyadi, menekankan bahwa transparansi adalah kunci di era digital. Pemerintah wajib membuka akses informasi kepada publik agar setiap kebijakan dapat diakses dan diperiksa, demi menjamin akuntabilitas dan kepercayaan masyarakat.
2. Pintar
KDM juga menyerukan pentingnya kecerdasan intelektual, khususnya kemampuan dasar seperti membaca dan menulis.
Dedi Mulyadi memperingatkan bahwa tanpa fondasi ini, individu akan kesulitan bersaing di dunia kerja dan lembaga penting.
3. Singer
Istilah "singer" menggambarkan etos kerja proaktif dan semangat pantang menyerah.
Gubernur Jawa Barat mengamati banyak orang pintar yang cenderung malas, sehingga ia mengajak masyarakat untuk tidak hanya mengandalkan kecerdasan, tetapi juga memiliki inisiatif dan kemauan keras untuk maju.
Pidato tersebut menyimpulkan bahwa manusia ideal adalah kombinasi dari semua sifat ini, yang Dedi Mulyadi sebut sebagai filosofi "Cager Bager Bener Singer Pinter".
Editor : Rani Puspitasari Sinaga