RADAR BOGOR - Pada upacara peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-80 di Lapangan Gasibu, Bandung, Minggu, 17 Agustus 2025 Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyampaikan pidato tentang berbagai hal salah satunya Panca Waluya.
Dalam pidatonya, Dedi Mulyadi tidak hanya menyampaikan kata-kata formalitas, tetapi juga merefleksikan kembali arti kemerdekaan dari sudut pandangnya.
Inti dari pidato Dedi Mulyadi adalah penekanan pada makna kemerdekaan yang jauh lebih luas dari sekadar bebasnya fisik dari penjajahan.
Sang kepala daerah berpendapat bahwa kemerdekaan sejati adalah kebebasan dari berbagai kendala yang menghalangi hak-hak dasar warga negara.
Selain itu, Dedi Mulyadi juga menyoroti hak-hak dasar yang seharusnya dinikmati setiap orang, seperti memiliki tanah, menghirup udara bersih, menikmati sinar matahari, dan mendapatkan air bersih secara gratis.
Konsep Pancawaluya untuk Pengembangan Karakter
Untuk mencapai kemerdekaan yang utuh, Dedi Mulyadi memperkenalkan konsep Pancawaluya, sebuah kerangka kerja untuk pengembangan karakter manusia yang terdiri dari lima prinsip:
- Cager (Sehat)
Anak-anak harus mendapatkan nutrisi yang tepat dan air bersih yang layak.
- Bager (Patuh)
Kepatuhan tidak hanya kepada Tuhan dan orang tua, tetapi juga kepada masyarakat dan lingkungan.
- Bener (Transparan)
Pemimpin harus transparan dalam mengelola dana pemerintah dan memastikan setiap kebijakan membawa manfaat bagi publik.
- Pinter (Cerdas)
Keterampilan dasar seperti membaca, menulis, dan berhitung adalah fondasi penting untuk kesuksesan.
- Singer (Rajin/Energik)
Semangat proaktif dan kompetitif harus terus ditumbuhkan.
Permohonan Maaf dan Komitmen untuk Rakyat
Di penghujung pidatonya, Dedi Mulyadi meminta maaf atas nama Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Permintaan maaf ini ditujukan kepada masyarakat atas permasalahan yang masih ada, seperti anak-anak yang tidak dapat bersekolah karena keterbatasan dana atau kesulitan mengakses layanan kesehatan.***