RADAR BOGOR - Solidaritas Para Pekerja Pariwisata Jawa Barat (SP3JB) bertemu dengan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi terkait keluhan para pengusaha bus dan hotel.
Salah satu perwakilan mengungkapkan, pihak bank sudah tidak mempercayai pengusaha hotel karena tidak bisa membayar.
"Nah, jadi dalam hal ini apabila owner hotel menutup hotelnya karena tidak mampu, owner hotel enggak jadi masalah, Pak," ujarnya.
Namun, perwakilan SP3JB menyebutkan, jika karyawan diberhentikan 2 bulan dia mengeluh.
"Jadi apa yang saya sampaikan itu jeritan dari para pengusaha hotel non bintang dan bintang tiga dan empat ke bawah," tuturnya.
Setelah mendengar keluhan tersebut, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengatakan, harus memimpin 54 juta rakyat Jawa Barat.
"Maka gubernur harus mengetahui apa yang menjadi skala prioritas dari 54 juta itu," ungkapnya.
Dedi Mulyadi menuturkan, jika bicara persoalan terjadi penurunan kualitas ekonomi yang dialami oleh pengusaha hotel, pengusaha bis sopir, dan jasa pariwisata hari ini.
"Saya juga boleh ngomong, selama ini juga selama bertahun-tahun ada ratusan ribu orang tua mengalami penderitaan, lebih dari jumlah karyawan bapak," pungkasnya.
Gubernur Jawa Barat menjelaskan, kerap berkunjung ke rumah-rumah dan bertemu banyak orang.
"Terima keluh kesah orang tua, orang tua pinjam bank kemudian ngambil uang lebih dulu dari saya. Kemudian dia bakti kerja nyangkul tidak dibayar. Itu jumlahnya ratusan ribu," ucapnya.
Dedi Mulyadi menerangkan kebijakannya terkait larangan study tour untuk internal sekolah.
Baca Juga: BRI Peduli Tanggap Bencana Gempa Poso, Salurkan Bantuan bagi Korban Terdampak
"Pertama, guru enggak boleh jual seragam gitu. Karena selama ini seragam disiapkan oleh sekolah. Anak-anak itu bayar. Ada yang terbayar, ada yang nyicil," lanjutnya
Kemudian, Gubernur Jawa Barat menceritakan, banyak anak-anak yang akhirnya dikeluarkan (do) dari sekolah gara-gara uang seragamnya belum bayar.