RADAR BOGOR - Bertemu dengan organda di bidang pariwisata, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menuturkan soal wisatawan yang berkunjung.
"Yang piknik itu bukan turis yang punya duit yang ingin wisata, yang piknik itu adalah orang-orang yang diorganisir untuk pergi wisata," tuturnya.
Hal ini juga, Dedi Mulyadi menyebutkan, tidak hanya terjadi di Jawa Barat.
Baca Juga: Pemandangan Indah Desa Malasari Jadi Komitmen Pemkab Bogor Akan Kembali Gelar Perlombaan
"Saya ke Pak Kadis Pariwisata, 'kalau diurus benar-benar, mungkin juga saya juga harus dipuji sama orang bis'," pungkasnya.
Gubernur Jawa Barat menjelaskan, kampungnya tidak diniatkan untuk menjadi tempat wisata.
"Saya niatkan untuk olahraga, saya setiap pagi bersepeda atau jalan kaki. Saya tiap hari mungut sampah.
Baca Juga: Optimisme Melambung, Wagub Jabar Yakin 4.600 Dapur Sehat MBG Rampung Oktober 2025
"Saya punya uang dari honor zaman DPR, honor YouTube apapun saya bangunkan jalan, saya bukan jembatan, segala macam," tegasnya.
Karena diurus dengan baik, Dedi Mulyadi mengungkapkan, lahir pariwisata yang mendatangkan wisatawan sebanyak 70.000 per minggu.
"Itu bis di tempat saya, ngebaris lebih dari 50 bis per hari Minggu. Tapi saya enggak dipuji sama orang bis," tekannya.
Namun, Gubernur Jawa Barat mewanti-wanti pariwisata di kampung halamannya tidak akan bertahan lama.
"Kenapa? Karena perilaku manusia. Bagaimana perilaku manusia serakah? Lapak tiap rumah disewa-sewakan, nyewanya ada yang satu rumah, lima lapak nyewa, estetikanya hancur," jelasnya.
Tidak hanya itu, Dedi Mulyadi menuturkan, barang-barang yang dijual tidak pernah dipikirkan kualitasnya.
"Berkualitas atau tidak, yang berkunjungnya, yang nyapunya tidak mau. Yang nyapunya orang saya yang masang tempat sampah saya, yang ngurus listrik saya," sebutnya.
Gubernur Jawa Barat mengatakan, jika sikap warga masih sama, hanya ingin menikmati tanpa ingin mengelola.
"Enggak bisa. Allah enggak suka. Kalau bahasa saya karuhunnya, kalau tidak dimuliakan, saya bilang ini enggak akan membawa berkah," tandas Dedi Mulyadi.