Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Gubernur Sebut Kebiasaan yang Buat Pendidikan Mahal, Dedi Mulyadi: Semiskin-miskinnya Anak Jawa Barat Hari Ini Jajannya Masih Rp5.000 sampai Rp10.000

Siti Dewi Yanti • Senin, 22 September 2025 | 05:49 WIB

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi ungkap faktor yang membuat pendidikan mahal
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi ungkap faktor yang membuat pendidikan mahal

RADAR BOGOR - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengaku fokus sejak awal memimpin infrastruktur sekolah SD, SMP, SMA dan SMK.

Menurutnya, hal tersebut merupakan kewajiban negara.

"Makanya saya berani membuka ruang kelas sampai 50 di Bandung," ucapnya.

Baca Juga: 10 Bansos Siap Dicairkan Akhir September 2025, PKH BPNT Tahap 3 dan Bantuan Tambahan Beras Hingga Minyak Goreng

Dedi Mulyadi mengungkapkan, prioritas kedua yakni, mendekatkan siswa pada akses pendidikan.

"Kenapa? Biaya ongkos mahal. Sekolah gratis enggak ada masalah, tapi ongkosnya Rp30.000," tuturnya.

Tak hanya itu, Gubernur Jawa Barat juga ingin menekan biaya pendidikan, karena yang mahal bukan biaya pendidikan atau SPP.

Baca Juga: Siap-Siap! Bansos Tambahan 2025 Cair untuk 18 Juta KPM, Cek Daftar Penerima dan Wilayah Prioritas di Sini

"Biaya pendidikan itu yang mahal adalah biaya jajannya, biaya modenya, outing class, dan studi tour itu yang paling mahal," pungkasnya.

Sehingga, Dedi Mulyadi menyebutkan, suatu berkah karena angka kemiskinan di Jawa Barat menurun.

"Karena hari ini saya melarang study tour, melarang outing class, dan melarang jajan," lanjutnya.

Baca Juga: Ketua DPRD Kabupaten Bogor Minta Pemerintah Daerah Harus Cari Solusi Terbaik untuk Masalah Truk Tambang di Parung Panjang

Oleh karena itu, Dedi Mulyadi akan memulai gerakan selanjutnya.

"Bagaimana uang yang Rp10.000 jajan, menjadi Rp5.000 untuk jajan Rp5.000 investasi. Bagaimana Anak-anak harus nabung," sebutnya.

Gubernur Jawa Barat membeberkan, uang yang dikeluarkan anak untuk jajan.

"Semiskin-miskinnya anak Jawa Barat hari ini jajannya masih Rp5.000 sampai Rp10.000. Saya taruhan pemulung anak-anaknya masih 5 sampai 10.000.

Baca Juga: Lowongan Kerja di Luar Negeri Untuk Jadi Barista, Commis, dan Waitress, Catat Jadwal, Syarat dan Juga Benefit yang Diraih

"Jadi kalau hari ini ada orang kurang gizi, itu bukan faktor tidak punya uang, tetapi faktornya adalah tradisi jajan lebih tinggi daripada tradisi memasak di rumah," tekannya.

Dedi Mulyadi menjabarkan, banyak yang lebih senang membeli jajanan di sekolah senilai Rp5.000 dibanding beli telur.

"Padahal Rp5.000, kalau pagi-pagi direbus dapat telur dua biji," ucapnya.

Sehingga, Gubernur Jawa Barat mendorong sekolah pagi mulai jam 06.30.

"Sesungguhnya lagi merubah masyarakat Jawa Barat, mindsetnya untuk apa? Untuk menjadi orang yang merubah pola," jelasnya.

Gubernur Jawa Barat menerangkan, anak-anak harus masuk 06.30 agar bangun jam 05.00.

"Maka orang tuanya akan memaksa tidurnya jam 08.00 sampai jam 09.00. Kalau mereka tidurnya jam 08.00 jam 09.00, maka kebiasaan nongkrongnya hilang," bebernya.

Baca Juga: Dua Lansia Pelaku Rudapaksa Terhadap Anak di Bawah Umur Ditahan Polres Bogor, Orang Tua Korban Mengaku Lega

Dedi Mulyadi berujar, aktivitas nongkrong menghabiskan BBM kemudian nongkrong di kafe walaupun Rp50.000.

"Anak yang nongkrong Rp50.000 Ibu pacaran dari jam 03.00 sore sampai jam 10.00 malam rugi," tandas Gubernur Jawa Barat.

Editor : Siti Dewi Yanti
#dedi mulyadi #gubernur jawa barat #biaya pendidikan