RADAR BOGOR - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengaku fokus sejak awal memimpin infrastruktur sekolah SD, SMP, SMA dan SMK.
Menurutnya, hal tersebut merupakan kewajiban negara.
"Makanya saya berani membuka ruang kelas sampai 50 di Bandung," ucapnya.
Dedi Mulyadi mengungkapkan, prioritas kedua yakni, mendekatkan siswa pada akses pendidikan.
"Kenapa? Biaya ongkos mahal. Sekolah gratis enggak ada masalah, tapi ongkosnya Rp30.000," tuturnya.
Tak hanya itu, Gubernur Jawa Barat juga ingin menekan biaya pendidikan, karena yang mahal bukan biaya pendidikan atau SPP.
"Biaya pendidikan itu yang mahal adalah biaya jajannya, biaya modenya, outing class, dan studi tour itu yang paling mahal," pungkasnya.
Sehingga, Dedi Mulyadi menyebutkan, suatu berkah karena angka kemiskinan di Jawa Barat menurun.
"Karena hari ini saya melarang study tour, melarang outing class, dan melarang jajan," lanjutnya.
Oleh karena itu, Dedi Mulyadi akan memulai gerakan selanjutnya.
"Bagaimana uang yang Rp10.000 jajan, menjadi Rp5.000 untuk jajan Rp5.000 investasi. Bagaimana Anak-anak harus nabung," sebutnya.
Gubernur Jawa Barat membeberkan, uang yang dikeluarkan anak untuk jajan.
"Semiskin-miskinnya anak Jawa Barat hari ini jajannya masih Rp5.000 sampai Rp10.000. Saya taruhan pemulung anak-anaknya masih 5 sampai 10.000.
"Jadi kalau hari ini ada orang kurang gizi, itu bukan faktor tidak punya uang, tetapi faktornya adalah tradisi jajan lebih tinggi daripada tradisi memasak di rumah," tekannya.
Dedi Mulyadi menjabarkan, banyak yang lebih senang membeli jajanan di sekolah senilai Rp5.000 dibanding beli telur.
"Padahal Rp5.000, kalau pagi-pagi direbus dapat telur dua biji," ucapnya.
Sehingga, Gubernur Jawa Barat mendorong sekolah pagi mulai jam 06.30.
"Sesungguhnya lagi merubah masyarakat Jawa Barat, mindsetnya untuk apa? Untuk menjadi orang yang merubah pola," jelasnya.
Gubernur Jawa Barat menerangkan, anak-anak harus masuk 06.30 agar bangun jam 05.00.
"Maka orang tuanya akan memaksa tidurnya jam 08.00 sampai jam 09.00. Kalau mereka tidurnya jam 08.00 jam 09.00, maka kebiasaan nongkrongnya hilang," bebernya.
Dedi Mulyadi berujar, aktivitas nongkrong menghabiskan BBM kemudian nongkrong di kafe walaupun Rp50.000.
"Anak yang nongkrong Rp50.000 Ibu pacaran dari jam 03.00 sore sampai jam 10.00 malam rugi," tandas Gubernur Jawa Barat.
Editor : Siti Dewi Yanti