RADAR BOGOR - Pemenuhuan gizi masyarakat terutama ana-anak menjadi perhatian serius Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Menurut Dedi Mulyadi, apabila saat ini ada orang kurang gizi, maka itu bukan faktor tidak punya uang, tetapi faktornya adalah tradisi jajan lebih tinggi daripada tradisi memasak di rumah.
Gubernur Jawa Barat mengatakan, masyarakat lebih senang membeli jajanan yang di sekolah dan sekitarnya Rp5.000 dibanding beli telur.
Padahal, kata Dedi Mulyadi, Rp5.000 itu kalau pagi-pagi direbus dapat telur dua butir.
Nah, kenapa Gubernur Jawa Barat mendorong sekolah pagi pukul 06.30
Sesungguhnya, Dedi Mulyadi menegaskan, sedang mengubah masyarakat Jawa Barat mindsetnya.
"Untuk apa? untuk menjadi orang yang merubah pola. Apa sih polanya? Saya kasih tahu nih. Rumusnya begini, kenapa anak-anak itu harus masuk pukul 06.30 agar mereka bangunnya jam 05.00," papar KDM (sapaan Dedi Mulyadi).
Jika masyarakat bangunnya pukul 05.00, maka orang tuanya akan memaksa tidurnya jam 20.00 sampai jam 21.00.
Selanjutnya, apabila tidurnya pukul 20.00 atau 21.00, maka kebiasaan nongkrongnya hilang.
"Nongkrong itu duit loh. Dia menghabiskan BBM kemudian nongkrong di cafe walaupun Rp50.000," ungkap Gubernur Jawa Barat.
Kenapa banyak cafe yang banyak gulung tikar? KDM menjelaskan, trend mode bikin cafe di mana-mana.
Anak yang nongkrong Rp50.000 pacaran dari sore sampai pukul 22.00 rugi.
"Kita ngalamin begitu juga. Kalau yang punya duit enggak, enggak mau kelihatan umum ngeluar duitnya banyak," kata Dedi Mulyadi.
Nah, makanya itu didorong untuk diubah.
Yang berikutnya adalah Gubernur Jawa Barat meminta membawa bekal ke sekolah bagi mereka yang MBG-nya belum ada.
Untuk apa? membuat tradisi memasak.
Dedi Mulyadi menambahkan, tradisi memasak kaum ibu di rumah sesungguhnya piranti jalan untuk membangun kesejahteraan rakyat.
"Nah, dari tradisi ini maka yang kedua adalah layanan terhadap ini nanti yang berpengaruh pada perumahan layanan terhadap kesehatan," pungkas Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim