RADAR BOGOR - Masalah pengangguran terus ditekan oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Menurut Dedi Mulyadi, jika banyak masyarakat yang tidak bekerja maka akan menimbulkan kelompok miskin baru.
"Bagaimana menjadi kelompok miskin baru? satu, tanahnya dijual untuk industri," ungkap Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Setelah itu, kata KDM (sapaan Dedi Mulyadi) para pedagangnya di sekitar industri awalnya ngontrak.
"Tukang mie ayam ngontrak dulu, tukang nasi goreng ngontrak dulu, tukang pecel lele ngontrak dulu, tukang kredit ngontrak dulu, warung Tegal ngontrak dulu, masakan Padang ngontrak dulu," ungkap Dedi Mulyadi.
"Karena mereka rajin berjualan, kemudian rajin menabung, apa yang terjadi? tempat yang dikontraknya kemudian dibelinya," sambung Gubernur Jawa Barat.
Kemudian, jelas KDM, masyarakat di sekitar kerjanya nongkrong, motor-motoran.
"Setelah itu apalagi? Pasea perebut limbah. Nah, ini yang harus segera dirubah," papar Gubernur Jawa Barat.
Caranya diubah bagaimana? Pertama, ungkap Dedi Mulyadi, masyarakat dipekerjakan.
Yang kedua, sambung Gubernur Jawa Barat, diciptakan masyarakat menengah.
Bagaimana diciptakan masyarakat menengah? Pemerintah Provinsi Jawa Barat membuka ruang untuk memberikan fasilitas pendidikan gratis bagi anak-anak yang berprestasi di sekitar kawasan industri untuk menjadi tenaga teknis, diploma dan S1.
KDM menegaskan, semua biayanya ditanggung oleh Pemprov Jawa Barat.
"Nah, untuk apa? untuk dilahirkan manajer-manajer baru sehingga nanti ada pabrik manajer HRD-nya orang sini, ada pabrik bagian humasnya orang sini, ada pabrik kepala security-nya orang sini, ada pabrik kepala produksinya orang sini semua," tutur KDM.
Tetapi, semua itu menurut Dedi Mulyadi harus lewat proses pendidikan yang memadai.
Maka Pemprov Jawa Barat, ungkap KDM, menyiapkan program yang namanya sekolah manajer yang yang diperuntukkan untuk anak-anak di sekitar industri yang berprestasi dan dididik untuk menjadi pemimpin perusahaan.
Dedi Mulyadi menambahkan, mereka dilatih bagaimana cara bangun, mandi, tidur, pakai sepatu, pakai jas, kemeja, dasi, berbicara, berkomunikasi dengan media, dengan orang asing, sikap dan mentalnya semua harus dibangun.
"Kenapa? Karena pemimpin itu harus dipersiapkan. Ini caranya. Nah, cara seperti ini akan bisa mengubah sebuah masyarakat agraris menjadi masyarakat industri," papar Gubernur Jawa Barat.
Dedi Mulyadi tidak ingin, masyarakat hidupnya sudah industri, gayanya masih agraris.
"Cara ini saya sudah beberapa kali berhasil mengembangkan, cara ini dan ini akan terus saya kembangkan dan Subang sekarang sudah tumbuh menjadi kota industri," tegas KDM.
Karena sudah tumbuh kota industri, maka masyarakatnya harus menjadi masyarakat industri yang produktif, punya visi, bisa mengatur waktu, bisa memilih diri, menahan emosi.
"Kenapa harus menahan emosi? Karena industri itu harus dibangun dalam basic ketenangan, harmoni," ucap Dedi Mulyadi.
Gubernur Jawa Barat menuturkan, tidak boleh ada konflik sebab memengaruhi pasar.
"Pasar memengaruhi para pemegang saham. Pemegang saham harus nyaman. Ketika iklim kehidupannya bergolak, ketika iklim kehidupannya konflik, maka pasar akan ambruh. Para pemegang saham akan kabur dan akhirnya pengangguran di mana-mana," pungkas Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. (*)