RADAR BOGOR – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi bertemu dengan Yai MIM alias Kiai Muhammad Imam Muslimin, seorang dosen UIN Malang sekaligus Guru Besar, 30 September 2025.
Pertemuan dengan Gubernur Jawa Barat (Jabar) tersebut terkait video Tiktok yang diviralkan Bu Sahara, tetangga Yai MIM.
Beredar Surat Kesepakatan Warga RT 09 RW 09 yang meminta Yai MIM beserta istrinya untuk meninggalkan perumahan karena dianggap meresahkan.
Yai MIM sering berkata tak pantas dan bernyanyi saat malam hari.
Yai MIM dan keluarganya merupakan penggemar berat pimpinan Jabar itu.
“Pak Dedi itu kepalanya kecil. Tidak sombong,” ucapnya.
Pujian Yai MIM tersebut membuat sang pimpinan Jabar terharu dan memberi takzim.
Yai MIM datang dengan membawa istrinya yang manis. Pria kelahiran Blitar itu mengakui dirinya tak terkenal, berbeda dengan penceramah Kiai Marzuki dan Gus Iqdam.
Dedi Mulyadi langsung menyanggahnya.
Gubernur Jawa Barat itu beropini Yai MIM yang tinggal di Malang, tepatnya perumahan Joyogrand RT 09 RW 09 itu, sangat terkenal.
Pria murah senyum tersebut baru tinggal di perumahan yang dirancang oleh Agus Syamsudin selama 4 bulan.
Perumahan itu disebut rumah industrial ataupun kavling depan yang merupakan tempatnya mengajar beberapa profesor.
“Dari tanah seluas 192 meter persegi, saya hanya pakai 11 m2 untuk rumah. Saya wakafkan 7 m2 untuk jalan. Saya berikan itu untuk Allah. Siapa yang lewat jalan itu akan menjadi orang yang baik dan masalahnya diselesaikan,” ucap Yai MIM.
Dedi Mulyadi langsung merespon bahwa dirinya harus melewati jalan itu agar segera memperoleh istri.
Sang Gubernur Jawa Barat lupa amanat Ni Hyang, anak bungsu kesayangannya bahwa ia tak boleh menikah lagi.
Permasalahannya muncul ketika Sahara, tetangga yang memiliki usaha penyewaan mobil, memarkirkan mobilnya di depan garasi Yai MIM.
Biasanya, Yai MIM berada di Jakarta sekitar 20 hari.
Dosen tersebut hanya pulang ke rumah itu jika ada jadwal untuk mengisi acara Masjid.
Oleh karena itu, Bu Sahara menganggap rumah sedang tak dihuni.
Kebetulan saat itu Yai MIM berada di rumah itu bersama istrinya.
Sang istri menelepon Bu Sahara terkait mobil yang diparkir depan garasi.
Si tetangga pun meminta tolong untuk memindahkan saja mobilnya dan memberitahu letak kunci mobilnya.
Saat Yai MIM memindahkan mobil tersebut, terdengar bunyi keras akibat gesekan ban mobil dengan lantai paving yang bergelombang sehingga Sahara pun keluar dari rumahnya dan mengkritik bahwa perbuatan Yai MIM tak sopan.
“Saya lihat Yai MIM ini intelektual, akademis, tapi pandai sekali berdrama. Ini kan masalahnya mobil digas bunyinya DREEENG. Tetangga, si pemilik mobil merasa Yai MIM memakai mobil dengan marah-marah,” ujar Dedi Mulyadi.
Pria kelahiran Subang itu menyarankan Yai MIM yang merupakan akademisi sekaligus ahli tasawuf untuk segera berdamai.
Yai MIM menyatakan dirinya sudah berdamai dan memohon maaf.
Walaupun demikian, menurut dia, pihak Sahara emosional.
Dirinya pun khawatir akan keselamatan istrinya tercinta.
Dampak dari perselisihan tersebut ialah mahasiswa mahasiswi S1 tak menghadiri kuliah Bahasa Arab yang diajarkannya.
Yai MIM merasa kecewa sehingga ia mengundurkan diri hingga persoalan di ranah hukum selesai atau hingga batas waktu yang tak bisa ditentukan.
Dirinya pun tak lagi memiliki jadwal mengajar.
“Kedua orang yang berbeda persepsi, masing-masing benar dalam pemahamannya. Persoalan dari kebenaran itu nanti memenuhi unsur kebenaran materiil dan formilnya hingga bisa menang di pengadilan itu urusan yang berbeda,” kata Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim