RADAR BOGOR – Dedi Mulyadi membahas pepatah dan tagline Sunda terkait kepemimpinannya (leadership) sebagai Gubernur Jawa Barat (Jabar). Orang nomor satu di Tanah Pasunda itu tak terlepas dari kearifan lokal Jawa Barat.
Beberapa pepatah Sunda yang sering dibahas Dedi Mulyadi terkait kepemimpinannya sebagai Gubernur Jawa Barat yang dirangkum dari berbagai sumber berikut ini:
Pamingpin itu kudu ka luhur sirungan, ka handap akaran.
Pemimpin itu harus memiliki memiliki dasar atau akar yang kuat, baik dalam kejujuran maupun dalam kemajuan hidup, sehingga hidupnya akan membawa kemajuan atau keberkahan. Dalam hal ini pemimpin harus berakar dengan lingkungan masyarakat, mengerti persoalan dan memiliki peran untuk kemajuan rakyatnya.
Pamingpin itu kudu bisa lurus bumi, ngapak mega, leumpang dina luhur cai.
Pemimpin harus memiliki landasan yang kuat, jujur, atau berprinsip kokoh layaknya bumi yang menjadi pijakan, bisa menggapai ke atas, dan berjalan atau melakukan sesuatu yang luar biasa meski itu sulit demi kepentingan masyarakat.
Pamingpin kudu hade gogog hade tagog.
Pemimpin harus memiliki budi bahasa atau ucapan yang baik begitu pula dengan tingkah laku yang baik pula.
Pamingpin kudu hade congcot hade bacot.
Pemimpin harus pandai atau baik dalam penampilan dan saat berbicara, kata-kata yang diucapkannya baik atau tepat.
Falsafah Sunda terkait kepemimpinan Dedi Mulyadi yakni tentang Ketahanan Pangan
Selain itu falsafah Sunda yang juga kerap diucapkan oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi:
- Pemimpin harus mewujudkan masyarakat yang gemah ripah, repeh, rapih: Tagline Provinsi Jawa Barat yang sering digaungkan sejak dulu.
- Rea ketan, rea keton, buncir leuit, loba duit, bru di juru, bro di panto, ngalayah di tengah imah, di pipir aya petikeun, di kolong aya si jambrong, na para aya si jago:
Rea ketan, rea keton: Kecukupan pangan, ada pertanian yang menghasilkan produktivitas tinggi terhadap ketahanan pangan di Jawa Barat.
Buncir leuit: Kecukupan pangan ditandai dengan terisinya gudang dengan penuh atau hasil panen padi yang melimpah yang menjadi cermin kemakmuran suatu negara.
Aya leuit, aya lumbung: Ada kecukupan atau kelimpahan pangan yang tersedia untuk memeunuhi kebutuhan.
Bru di juru, bro di panto, ngalayah di tengah imah: Tersedia di setiap sudut rumah, di pintu hingga berserakan di tengah rumah.
Di pipir aya peutikeun: Di sisi rumah ada tanaman pangan yang bisa dipetik.
Di kolong aya si jambrong, na para aya si jago: Di bawah dilengkapi dengan ternak kambing atau domba di atas terdapat ayam.
“Kini tekad Presiden Prabowo Subianto ialah kecukupan pangan, diterjemahkan dengan kinerja yang cukup dalam lingkungan masyarakat dan harus dimulai dengan budaya,” ujar Dedi Mulyadi dilansir dari YouTube Dewan Pers Official.
Editor : Eka Rahmawati