RADAR BOGOR - Gerakan Rereongan Sapoe Sarebu Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi kembali menuai protes, kali ini dari seorang ibu atau emak di Pangandaran hingga viral di media sosial.
Dalam video yang diunggah ulang gubernur Jawa Barat di media sosialnya, ibu tersebut menyampaikan keberatan terhadap kebijakan donasi Rp1.000 per hari.
"Teruntuk bapak aing Kang Dedi Mulyadi Gubernur Jawa barat nya Pak urusan ejeng surat edaran tentang gerakan rereangan Sapoe Sarebu atawa Poe Ibu, anu di dinya menghimbau ceunah ge rakyat ti mimiti tingkat RT di sekolah, ASN, masyarakat kabeh kudu nyisihkeun duit sapoe sarebunya bapak aing, emak teu setuju lieur, iyeu kebijakan teh lieur emak mah, cabut pokokna mah," ujar wanita tersebut di akun TikToknya.
(Artinya: teruntuk Bapak Aing Kang Dedi Mulyadi Gubernur Jawa Barat terkait surat edaran tentang Gerakan Rereongan Sapoe Sarebu atau Poe Ibu yang bapak menghimbau rakyat mulai dari tingkat RT, di sekolah, ASN, masyarakat semua harus menyisihkan uang sehari seribu ya Bapak Aing, Emak tidak setuju, pusing ini kebijakan tuh pusing Emak tuh cabut pokoknya)
Menanggapi video tersebut Dedi Mulyadi kembali menjelaskan bahwa ia tidak memungut uang Rp1.000 untuk diserahkan kepada dirinya.
"Saya tidak mungut uang seribu untuk dikumpulin di gubernur yang bermiliar-miliar bertriliun triliun ini, saumpama emak pegawai ASN Pangandaran terus emak menyimpan dina kotak seribu, kalau emak mau, kalau nggak pun nggak apa-apa, nanti dikelola oleh unit kerja Emak, oleh dinas Emak oleh OPD Emak nanti disimpen sebagai kas sosial," ujar gubernur Jawa Barat dilansir dari Instagram @dedimulyadi71, Senin, 7 Oktober 2025.
(Artinya: saya tidak mungut uang Rp1.000 untuk dikumpukan di gubernur yang bermiliar-miliar, bertriliun-triliun ini, misalnya Emak pegawai ASN Pangandaran terus Emak menyimpan kotak kalau Emak mau, kalau gak juga tidak apa-apa, nanti dikelola oleh unit kerja Emak, oleh dinas Emak olej OPD Emak nanti disimpan sebagai kas sosial).
Menurut Dedi Mulyadi uang ibu nantinya bisa digunakan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan, misalnya bagi yang tidak memiliki ongkos ke rumah sakit, maka uang itu bisa dimanfaatkan atau kebutuhan mendesak masyarakat lainnya.
"Saya enggak ngerti kalau uangnya ada miliaran ada triliunan dan itu pun kalau yang mau yang mau beramal ibadah yang mau ya, kalau tidak tidak apa-apa Emak," tambah Dedi Mulyadi.
Menurut Dedi Mulyadi jika di sekolah gerakan tersebut hampir sama dengan kas sosial yang di sekolah, di ruang kelas yang sudah ada sejak lama bahkan sejak dirinya duduk di bangku SMP. Misalnya jika ada teman yang sakit kata Dedi, maka ditengok termasuk jika ada yang tidak memiliki uang untuk membeli seragam.
"Dipegangnya oleh siapa? Ya oleh bendahara kelas gitu, itu pun kalau mau kalau yang tidak ada paksaan," kata gubernur Jawa Barat.
Meski demikian Dedi Mulyadi menyampaikan terima kasih atas kritik yang disampaikan kepadanya selaku gubernur Jawa Barat.
Editor : Eka Rahmawati