RADAR BOGOR - Gerakan Rereongan Sapoe Sarebu atau Poe Ibu yang digagas Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi kembali menjadi sorotan.
Dedi Mulyadi kembali menjelaskan soal program yang digaungkannya di Provinsi Jabar bagi ASN hingga masyarakat.
"Tidak ada di Jawa Barat kebijakan gubernur membuka donasi untuk seluruh warga sehari Rp1.000, yang ada adalah gubernur meminta warga memperkuat solidaritas sosial dengan mengoptimalkan tradisi yang sudah berkembang di Jawa Barat namanya beas perelek namanya gerakan Gasibu yang saya menyebutnya hari ini adalah Poe Ibu," ujar gubernur Jawa Barat dalam keterangannya dilansir di Instagram @dedimulyadi71, Rabu, 8 Oktober 2025.
Dedi menegaskan gerakan itu sudah ada sejak lama dan dilakukan di sejumlah di Jawa Barat mulai dari tingkat RT dan RW.
"Biasanya nyimpen uang Rp1.000 di kotak di depan rumah atau diganti dengan beras disimpan dalam ruas bambu, uang itu digunakan untuk membantu warganya yang kesusahan," kata Dedi Mulyadi.
Gubernur berusia 54 tahun itu juga menyampaikan fiskal di Jawa Barat dalam menangani pendidikan dan kesehatan saat ini masih relatif baik. Imbauan dirinya terkait melakukan gerakan Sapoe Sarebu atau Poe Ibu bertujuan untuk menangani masalah warga yang tidak dianggarkan di APBD sebab memang tidak dianggarkan.
Dedi mencontohkan jika ada masyarakat kurang mampu ke rumah sakit dan tak memiliki biaya transportasi maka bisa digunakan untuk membantu ongkos ke rumah sakit, meski biaya rumah sakit di-cover BPJS Kesehatan.
"Itu ditangani lewat gerakan rereongan sarebu di tingkat RT diselenggarakan oleh RT di tingkat RW diselenggarakan oleh RW di tingkat kelurahan diselenggarakan oleh kelurahan di tingkat kabupaten diselenggarakan oleh bupati dan wali kota, jadi gubernur tidak memungut sama sekali," tegasnya.
Gubernur Jabar mengungkapkan bahwa gubernur hanya mengelola rereongan Sapoe Sarebu dari ASN di Provinsi Jawa Barat dan itu pun bagi yang mau serta tidak ada kewajiban.
"Yang tidak mau juga tidak apa-apa," tambah Dedi Mulyadi.
Apa Itu Beas Perelek?
Dilansir dari berbagai sumber beas perelek merupakan tradisi masyarakat Sunda yang mengumpulkan beras secara sukarela dari warga yang mampu untuk membantu warga lain yang membutuhkan atau kurang mampu.
Dalam pelaksanaannya setiap hari atau berkala, warga menyisihkan sejumput beras atau disebut perelek sebelum memasak yang nantinya setelah terkumpul disimpan dalam wadah khusus dan biasanya diletakkan di depan rumah masing-masing.
Pihak RT maupun RW atau pengurus yang ditunjuk kemudian berkeliling secara rutin untuk mengumpulkan beras tersebut.
Dedi Mulyadi juga mengibaratkan Sapoe Sarebu mirip beas perelek, jadi beras tersebut diganti dengan uang dengan sistem yang sama, dikumpulkan di lingkungan masing-masing dan dengan gotong royong dana terkumpul digunakan untuk membantu warga yang membutuhkan.
Sebelumnya Dedi berpesan agar pengelolaan keuangan Sapoe Sarebu dilakukan secara terbuka dan disampaikan kepada publik secara rinci terkait penggunaannya.
Editor : Eka Rahmawati