RADAR BOGOR - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyampaikan terkait gerakan Sapoe Sarebu atau Poe Ibu.
Keterangan itu disampaikan setelah gerakan tersebut disebut memungut donasi Rp1.000 setiap hari.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi melalui Instagram @dedimulyadi71 dan mengklarifikasi secara tegas. Penjelasannya memberikan konteks mengenai esensi kebijakan tersebut, sekaligus meluruskan tujuan dari gerakan yang digagasnya itu.
“Tidak ada di Jawa Barat kebijakan gubernur membuka donasi untuk seluruh warga sehari Rp1.000, yang ada adalah gubernur meminta warga memperkuat solidaritas sosial dengan mengoptimalkan tradisi yang sudah berkembang di Jawa Barat, namanya beas perelek namanya gerakan sapoe sarebu yang saya menyebutnya hari ini poe ibu,” ujar Dedi Mulyadi.
Intinya, gerakan ini bukanlah "donasi" yang dibuka oleh pemerintah, melainkan penguatan kembali kearifan lokal.
Jadi, kata Dedi gerakan beas perelek kalau di desa, dulu sapoe sarebu atau ia menyebutnya Poe Ibu merupakan kebiasaan warga Jabar (Jawa Barat) di tingkat RT maupun RW.
Pada zaman dulu, sistemnya setiap malam warga menyimpan uang di kotak di depan rumah atau diganti dengan beras seadanya. Uang atau beras yang terkumpul dari program ini digunakan secara murni untuk membantu warganya yang kesusahan.
Dedi Mulyadi juga menambahkan perspektif fiskal daerah untuk meredakan kekhawatiran publik.
“Dan saya sampaikan untuk fiskal Jawa Barat untuk menangani pendidikan, kesehatan, masih relatif baik, dan imbauan saya itu bertujuan untuk menangani masalah warga yang tidak dianggarkan di APBD karena itu tidak mungkin dianggarkan,” Lanjut Kang Dedi.
Klarifikasi ini menegaskan bahwa Poe Ibu adalah inisiatif berbasis komunitas yang memberdayakan, sebuah jembatan untuk masalah sosial yang tidak terjangkau oleh anggaran formal pemerintah.
Gerakan tersebut menjadi perwujudan gotong royong, bukan beban fiskal atau permintaan "donasi" negara.
Editor : Eka Rahmawati