Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi Bahagia, Danantara Akan Bangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah

Fransisca Susanti Wiryawan • Jumat, 10 Oktober 2025 | 21:58 WIB
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dengan pengurus Danantara.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dengan pengurus Danantara.

RADAR BOGOR –Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, para walikota, dan bupati se-Jawa Barat (Jabar) bahagia  atas rencana Danantara akan melakukan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di hampir seluruh Jawa Barat (Jabar).

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menjelaskan, rencana Danantara membangun pembangkit listrik tenaga sampah, saat bertemu CEO Danantara Rosan Roeslani, Rabu, 10 Oktober 2025.

Rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah itu, diungkap Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, merupakan kolaborasi antara Pemerintah Daerah dan Danantara untuk mengatasi persoalan sampah di berbagai kabupaten dan kota di Jabar.

Sumber modal untuk program tersebut ialah patriot bond Danantara dengan tenor 7 dan 5 tahun, yield 2%. Penunjukkan pengerjaan proyek melalui sistem tender.

Teknologi yang digunakan dalam PLTSa ialah insinerasi, yaitu pembakaran dalam temperatur tinggi, yaitu sekitar 850-1.400 derajat Celcius.

Walaupun teknologi tersebut efisien untuk mengatasi sampah dalam volume besar, terdapat risiko emisi karbon. Oleh karena itu, harus menerapkan teknologi insinerasi yang modern seperti Carbon Capture and Storage (CCS).

Salah satu titik risiko dalam proses insinerasi ialah kekuatan ruang incinerator terhadap temperatur dan tekanan, dan juga jenis bahan sampah yang dibakar. Misalnya, sampah organik yang sudah membusuk dan menghasilkan gas metana, akan berisiko menimbulkan letupan dan tekanan ketika dibakar.

Titik risiko lainnya ialah abu (bottom ash), abu terbang (fly ash) dan gas buangan yang mengandung zat kimia seperti karbon monoksida, karbon dioksida, sulfur dioksida, nitrogen oksida, asam klorida, polychlorinated biphenyls, heksaklorobenzena, furan (sangat beracun), dan dioksin (sangat beracun).

Solusinya ialah implementasi Air Pollution Control system (APC System) sehingga bisa menyaring abu dan zat-zat kimia tersebut. Media filter seperti karbon aktif, zeolit, dan lain-lain.

Hal penting dalam skema waste to energy ialah sortir sampah berdasarkan organik dan anorganik. Poin tersebut agar mempermudah penanganan sampah dengan teknologi insinerasi.

Biasanya, sampah dicacah dan dikeringkan sebelum proses insinerasi agar lebih efisien. Penyacahan sampah bermanfaat untuk memperbesar luas permukaan sehingga lebih reaktif.

Menurut Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Jabar menghasilkan total timbulan sampah sebanyak 25.333 ton per hari, terdiri dari 40,60% sampah sisa makanan, 19,59% sampah plastik, dan 13,28% sampah kertas. Sumber terbesar sampah berasal dari rumah tangga senilai 47,42% dari total timbulan sampah harian.

Rumah tangga harus menyortir sampah antara organik dan anorganik. Setiap rumah tangga sebaiknya memiliki composting bag yang bisa dibeli di market place sehingga bisa mendaur ulang sampah organik (sisa buah dan sayur) menjadi pupuk kompos. Sampah organik tersebut juga bisa untuk pakan ternak.

Sementara, sampah organik yang mengandung daging dan ikan sebaiknya dikumpulkan oleh Bank Sampah masing-masing area. Daur ulang jenis sampah organik tersebut harus menggunakan bantuan lalat Maggot.

Surplus makanan yang masih berkualitas baik didonasikan pada warga. Mengadakan program tebus murah sehingga makanan UMKM habis terjual. Hal tersebut mengurangi potensi sampah makanan.

Editor : Rani Puspitasari Sinaga
#dedi mulyadi #gubernur jawa barat #pembangkit listrik tenaga sampah