RADAR BOGOR – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi membantu Juliah (41), warga Kopo, Bandung yang mengalami kesulitan ekonomi.
Alangkah terkejutnya Dedi Mulyadi ketika mengetahui Juliah memiliki 13 anak dan harus tinggal berhimpitan 9 orang dalam 1 rumah petak.
“Ieu teh warga aing, warga Jabar (Ini tuh warga saya, warga Jabar),” ujar Dedi Mulyadi tanpa bisa menyembunyikan keterkejutannya.
“Saya mau bantu hanya jika Ibu mau ikut program KB,” sambung Gubernur Jawa Barat.
Dedi Mulyadi menyimpulkan, fungsi penyuluhan program Keluarga Berencana (KB) di area tinggal Juliah tidak berjalan.
Seharusnya, Lurah Kopo mengoordinir kegiatan penyuluhan program KB sehingga tidak ada ibu beranak 13 seperti Juliah.
Pernikahan pertama Juliah terjadi, ketika berusia 13 tahun.
Dari pernikahan tersebut menghasilkan 6 anak.
Sementara pernikahan kedua menghasilkan 7 anak. Total 13 anak.
“Jadi, ini anak bungsu Ibu?,” tanya Dedi Mulyadi sembari menunjuk seorang balita yang berada dalam gendongan Juliah.
“Mungkin,” jawab Juliah singkat sembari tersenyum selugu marmut merah jambu.
Dedi Mulyadi terdiam. Tiba-tiba kepalanya terasa pening.
Gubernur Jawa Barat tersebut tak bisa membayangkan berapa banyak anak lagi yang akan dihasilkan.
Padahal, jumlah anak Juliah sudah melebihi kesebelasan sepak bola.
Karena usianya rentan, jelas dia, Juliah tak bisa dibiarkan bereproduksi terus-menerus.
Khawatir membahayakan kesehatannya sendiri.
Lagipula perempuan pendiam tersebut mengaku dirinya pusing dengan banyaknya anak.
Tak bisa menahan perasaan galaunya, Dedi Mulyadi langsung menelepon staffnya untuk mengurus program KB Juliah dan suaminya.
Keputusan Gubernur Jabar tak bisa ditunda lagi. Hari ini juga masalah Juliah harus selesai.
Pria kelahiran Subang tersebut menaruh simpati pada masalah yang mendera Juliah.
Suami Juliah yang bekerja sebagai buruh bangunan sedang sakit.
Sewa rumah petak tak terbayar dan terancam diusir.
Pendidikan anak-anak hanya sampai kelas 3 Sekolah Dasar (SD).
Keluarga Juliah tidur bersembilan orang dalam 1 rumah petak sehingga kedua kaki harus menekuk dan bersandar pada dinding.
Padahal keluarga tersebut tinggal di Kota Bandung.
Dedi Mulyadi memutuskan untuk memberi Bansos uang sewa petak selama setahun senilai total Rp 6 juta, modal usaha warung minuman Juliah senilai Rp 1 juta, dan biaya berobat suaminya yang sedang demam.
Dahulu ibunya Juliah terbelit utang pada renternir, karena harus membesarkan 6 anak.
Penghasilan bapaknya Juliah yang bekerja sebagai tukang becak tak bisa menutupi utang sehingga rumah pun disita.
Dedi Mulyadi menekankan pentingnya Gerakan Rereongan Sapoe Sarebu (Poe Ibu) untuk memutus rantai kemiskinan.
Dengan iuran gotong royong tersebut bisa membantu warga yang membutuhkan sehingga terhindari dari jerat renternir seperti Bank Emok ataupun pinjaman online.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menekankan, pentingnya ada layanan aduan warga pada tingkat RT, RW, dan kelurahan sehingga masalah seperti Juliah segera teratasi.
Hal itu merupakan inklusivitas layanan publik Pemerintah Provinsi Jabar. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim